Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kesehatan Mata, Mata

Penyakit Retina

Penyakit retina adalah penyakit mata yang menyerang retina dan menyebabkan gangguan penglihatan seperti pandangan kabur, pandangan bergaris, atau bahkan kehilangan penglihatan.

Sebagai bagian dari sistem saraf pusat, retina terletak di bagian belakang mata dan terhubung ke otak. Tugasnya adalah menangkap cahaya dari luar, yang kemudian diterjemahkan oleh otak, membuat seseorang dapat melihat.

Jenis pengobatan untuk penyakit retina tergantung pada penyebabnya. Jika tidak diobati, penyakit retina dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang parah bahkan kebutaan.

Jenis pengobatan untuk penyakit retina tergantung pada penyebabnya. Jika tidak diobati, penyakit retina dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang parah bahkan kebutaan.

Jenis dan Penyebab Penyakit Retina

Beberapa jenis penyakit retina yang paling umum adalah:

1. Ablasi retina

Penyakit yang disebut aplasi retina adalah ketika retina robek sehingga terlepas dari posisi normalnya. Ini dapat terjadi karena perubahan dalam jumlah cairan yang ada di bola mata atau munculnya jaringan parut di area retina, terutama pada orang yang menderita diabetes.

2. Retinoblastoma

Retinoblastoma adalah penyakit retina yang cukup langka yang disebabkan oleh tumbuhnya jaringan kanker pada retina. Jaringan kanker dapat menyebar ke jaringan lain, seperti otak dan tulang belakang.

3. Retinitis pigmentosa

Penyakit yang dikenal sebagai retinitis pigmentosa adalah penyakit genetik yang memengaruhi kemampuan retina untuk merespons cahaya. Penderita mengalami penurunan kemampuan melihat seiring waktu, tetapi tidak akan buta sepenuhnya. Penyakit ini adalah penyakit genetik yang dapat diwariskan dari orang tua ke anaknya.

4. Degenerasi makula

Penyakit retina yang disebut degenerasi makula menyebabkan kerusakan pada pusat retina, yang dapat menyebabkan pandangan menjadi kabur atau ada area yang tidak dapat dilihat. Degenerasi makula disebabkan oleh bertambahnya usia dan berisiko dialami oleh mereka yang memiliki riwayat degenerasi makula dalam keluarga mereka.

5. Retinopati diabetik

Penyakit retina yang disebabkan oleh diabetes disebut retinopati diabetik. Penyakit ini menyebabkan pembuluh darah retina rusak, yang menyebabkan bengkak pada retina atau pecah kapiler darah tidak nomal, yang menyebabkan pandangan menjadi kabur atau terganggu.

6. Retinopathy of Prematurity (ROP)

Gangguan tumbuh kembang retina yang terjadi pada bayi yang lahir sebelum waktunya dikenal sebagai retinopathy of prematurity (ROP). ROP terjadi ketika pembuluh darah di bola mata bayi tidak berkembang dengan sempurna. Akibatnya, pembuluh darah yang tidak normal muncul di bola mata bayi, menyebabkan perdarahan pada retina.

7. Amaurosis fugax

Amaurosis fugax adalah hilangnya penglihatan yang sementara pada salah satu atau kedua mata. Ini terjadi karena sumbatan pada pembuluh darah retina dan dapat merupakan gejala awal stroke.

Faktor risiko penyakit retina

Sejumlah faktor dapat meningkatkan kemungkinan terkena penyakit retina di atas, antara lain:

  • Usia empat puluh tahun ke atas
  • Mengalami kerusakan pada mata
  • memiliki sejarah penyakit retina
  • Mengalami kondisi medis yang bertahan lama, seperti diabetes atau hipertensi

Gejala Penyakit Retina

Gejala penyakit retina bervariasi tergantung pada penyebabnya, tetapi yang paling umum adalah gangguan penglihatan seperti:

  • Pandangan yang kabur
  • Pandangan yang luas menjadi terbatas
  • Floatings
  • Kilat cahaya atau photopsia
  • Sensitive terhadap sinar matahari
  • Problem dengan kemampuan untuk membedakan warna

Penyakit retina dapat memiliki gejala yang berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia atau berkembang secara cepat. Gejala dapat muncul pada salah satu atau kedua belah mata.

Saatnya ke dokter

Kunjungi dokter segera jika Anda mengalami gangguan penglihatan, terutama jika terjadi secara tiba-tiba. Selain itu, jika Anda melihat floaters, kilatan cahaya, atau penurunan kemampuan Anda untuk melihat, segera kunjungi dokter untuk mendapatkan perawatan.

Diagnosis Penyakit Retina

Untuk mendiagnosis penyakit retina, dokter akan melihat gejala pasien dan riwayat kesehatannya.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan mata yang menyeluruh, seperti menilai ketajaman penglihatan dan gerakan bola mata. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan oftalmoskopi, yang berarti memeriksa retina dengan alat khusus.

Pasien akan diminta menjalani pemeriksaan tambahan seperti:

  • USG mata, CT scandan MRI
    Ketiga pemeriksaan ini memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran visual yang lebih baik tentang retina. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk membantu dalam diagnosis dan penentuan pengobatan, termasuk mengidentifikasi kemungkinan cedera atau tumor pada mata.
  • Optical coherence tomography (OCT)
    Pemeriksaan ini dapat menampilkan gambar retina untuk mendeteksi kelainan retina yang terkait dengan penyakit degenerasi makula.
  • Tes Amsler grid
    Tes ini bertujuan untuk menguji ketajaman penglihatan tengah pasien. Pasien diminta untuk menjelaskan kondisi garis yang mereka lihat saat melihat gambar bergaris.
  • Angiografi mata
    Dokter melakukan angiografi mata untuk melihat pembuluh darah di retina. Pemeriksaan ini membantu mereka menentukan apakah ada sumbatan, kebocoran, atau kelainan dalam pembuluh darah mata.
  • Tes genetik
    Tujuan dari tes genetik adalah untuk mengidentifikasi penyakit retina yang berhubungan dengan faktor keturunan. Dokter akan mengambil sampel DNA dari jaringan tubuh tertentu pasien dan kemudian memeriksanya di laboratorium untuk memastikan apakah penyakit retina pasien berhubungan dengan faktor keturunan.

Pengobatan Penyakit Retina

Pengobatan penyakit retina tergantung pada jenisnya dan penyebabnya. Tujuan pengobatan adalah untuk memperbaiki penglihatan pasien dan mencegah penyakitnya bertambah parah.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan oleh dokter spesialis mata untuk mengobati penyakit retina adalah:

1. Penyuntikan obat pada mata

Penyuntikan terutama dilakukan pada vitreus atau gel bening mata untuk mengobati retinopati diabetik, pembuluh darah mata yang pecah, atau degenerasi makula.

2. Vitrektomi

Operasi yang disebut vitrektomi dilakukan untuk mengobati infeksi mata atau ablasi retina dengan menyuntikkan gas, udara, atau cairan ke dalam vitreus untuk mengganti gelnya.

3. Cryopexy

Untuk mengobati retina yang robek, cryopexy adalah pembekuan dinding luar mata. Tujuan prosedur ini adalah untuk memperlambat kerusakan akibat luka dan memastikan bahwa retina tetap berada di dinding bola mata.

4. Scatter laser photocoagulation (SLP)

Untuk mengobati retinopati diabetik, prosedur SLP menyusutkan pembuluh darah baru yang tidak normal atau pendarahan yang membahayakan mata.

5. Pneumatic retinopexy

Pneumatic retinopexy adalah penyuntikan udara atau gas pada mata untuk mengatasi pemisahan retina yang berbeda. Tindakan ini dapat dilakukan secara bersamaan dengan cyropexy atau laser photocoagulation.

6. Scleral buckling

Metode perbaikan permukaan mata untuk mengatasi ablasi retina dikenal sebagai skleral buckling. Di luar bagian putih mata (sklera), silikon ditambahkan untuk mencapai tujuan ini.

7. Implantasi prostesis retina

Pengobatan ini menggunakan operasi untuk memasang retina tiruan pada pasien yang mengalami kesulitan melihat atau menderita kebutaan karena penyakit retina, terutama retinitis pigmentosa.

8. Terapi laser

Terapi laser digunakan untuk memperbaiki lubang atau robekan pada retina. Selain memperbaiki robekan, pemanasan dengan sinar laser pada area yang robek akan menyebabkan pembentukan jaringan parut, yang akan membuat retina menempel pada jaringan penyangganya.

Komplikasi Penyakit Retina

Sangat penting untuk segera memeriksa masalah mata karena penyakit retina yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan masalah seperti kebutaaan dan gangguan penglihatan yang bertahan lama.

Pencegahan Penyakit Retina

Pemeriksaan mata yang teratur dan berkala sesuai dengan usia dapat membantu mencegah penyakit retina.

Anak-anak harus menjalani pemeriksaan mata paling tidak satu kali saat masih balita, usia sekolah, dan remaja untuk mengevaluasi perkembangan penglihatannya. Pemeriksaan mata juga disarankan setiap 1–2 tahun sekali dan setiap 40 tahun sekali.

Mereka yang memiliki faktor risiko menderita penyakit mata juga disarankan untuk menjalani pemeriksaan mata secara teratur, meskipun mereka belum berusia 40 tahun.

Faktor risiko ini termasuk diabetes dan hipertensi, serta memiliki riwayat penyakit mata dalam keluarga mereka. Pencegahan penyakit retina juga dapat dicapai dengan menjaga kadar gula darah normal pada usia empat puluh tahun.