Penurunan fungsi ginjal yang disebabkan oleh diabetes tipe 1 atau tipe 2 dikenal sebagai nefropati diabetik. Kondisi ini terjadi karena kadar gula darah yang tinggi dapat merusak bagian ginjal yang bertanggung jawab untuk menyaring zat sisa dari darah.
Dengan waktu, nefropatik diabetik dapat menyebabkan sistem penyaringan ginjal menjadi lebih buruk, yang mengakibatkan gagal ginjal.
Dengan menjalani pola hidup sehat, mengontrol gula darah dan tekanan darah, nefropati diabetik dapat dicegah. Sementara itu, penanganan sejak dini pada penderita nefropati diabetik dapat mencegah perburukan kondisi dan mengurangi risiko komplikasi lainnya.
Penyebab dan Faktor Risiko Nefropati Diabetik
Ketika gula darah tinggi menyebabkan kerusakan pada nefron, bagian ginjal yang bertanggung jawab untuk menyaring racun dan membuang kelebihan cairan dari dalam tubuh, nefropati diabetik terjadi. Akibatnya, ginjal tidak dapat menyaring air dan zat sisa, tetapi malah mengeluarkan protein darah, yang dikenal sebagai albumin, yang sangat penting bagi tubuh.
Untuk penderita diabetes, risiko mengalami kondisi ini dapat meningkat oleh beberapa faktor risiko, antara lain:
- Gula darah yang tidak terkontrol (HbA1c lebih dari 7%)
- Hipertensi
- Berlebihan berat badan
- penyakit diabetes tipe 1 sebelum usia dua puluh tahun
- Perilaku merokok
- Kolesterol tinggi
- Keluarga dengan diabetes dan penyakit ginjal lainnya
- Diabetes komplikasi tambahan, seperti neuropati diabetik atau retinopati diabetik
Gejala Nefropati Diabetik
Nefropati diabetik seringkali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Namun, kerusakan ginjal dapat berlanjut dan menyebabkan gejala berikut:
- Kulit menjadi gatal dan kering
- Hilang keinginan untuk makan
- Sering lelah atau lemas
- Membengkak pada mata, wajah, tangan, pergelangan kaki, atau kaki
- Mengalami mual dan muntah
- Sulit untuk fokus atau tidak fokus
- Kencing berbau
- Sesak dada
- Kram otot
Saatnya ke dokter
Segera temui dokter jika Anda mengalami gejala nefropati diabetik seperti yang telah disebutkan di atas.
Untuk mendapatkan respons yang cepat, Anda dapat berkonsultasi secara online melalui Chat Bersama Dokter. Melalui chat ini, dokter juga dapat memesan pemeriksaan ke rumah untuk memeriksa kondisi kesehatan Anda secara menyeluruh, dan dokter juga dapat memberi saran tentang pengobatan dan prosedur perawatan tambahan yang dapat Anda ambil.
Meskipun tidak ada gejala yang mengganggu, penderita diabetes harus diperiksa secara berkala.
Tujuan pemeriksaan diabetes rutin adalah untuk memantau kadar gula darah dan fungsi organ yang mungkin terkena dampak diabetes, termasuk fungsi ginjal, secara teratur. Ini akan membantu mencegah komplikasi seperti nefropati diabetik.
Diagnosis Nefropati Diabetik
Tes darah untuk mengevaluasi fungsi ginjal dapat digunakan untuk mendeteksi nefropatik diabetik, yang biasanya dilakukan setiap tahun untuk diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Dengan pemeriksaan rutin, penurunan fungsi ginjal dapat dideteksi ketika kondisi masih ringan dan dapat dikendalikan.
Dokter dapat menduga pasien dengan nefropati diabetik berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik mereka. Namun, untuk membuat diagnosis pasti, dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan berikut:
1. Tes urine mikroalbuminuria
Jika albumin ditemukan dalam urine seseorang, pasien mungkin mengalami nefropati diabetik. Untuk melakukan tes, sampel urine dapat diambil secara acak pada pagi hari atau dapat ditampung selama 24 jam.
Hasil tes untuk mikroalbuminuria dalam urine dapat berupa:
- Kadar albumin dalam urine di bawah 30 mg tetap normal
- 30 hingga 300 mg: penyakit ginjal pada tahap awal
- lebih dari 300 mg: penyakit ginjal memburuk
2. Tes BUN (blood urea nitrogen)
Urea nitrogen, zat sisa dari proses yang biasanya disaring oleh ginjal dan dibuang bersama urine, merupakan tujuan dari tes ini.
Tergantung pada usia dan jenis kelamin, kadar BUN normal bervariasi. Detailnya adalah:
- Pada pria dewasa, 8-24 mg/dL
- Pada wanita dewasa, antara 6 dan 21 mg/dL
- pada anak usia 1 tahun hingga remaja usia 17 tahun: 7–20 mg/dL
Jika hasil tes menunjukkan kadar BUN melebihi angka di atas, pasien mungkin mengalami gangguan ginjal atau nefropati diabetik.
3. Tes kreatinin
Sama seperti urea nitrogen, kreatinin juga merupakan limbah sisa pembakaran energi yang biasanya dibuang bersama urine, jadi tes ini dilakukan untuk mengukur kadar kreatinin dalam darah.
Peningkatan kadar kreatinin dalam tubuh dapat menunjukkan bahwa ginjal tidak berfungsi dengan baik. Kadar kreatinin pria normalnya adalah 0,74–1,35 mg/dL, sedangkan kadar kreatinin wanita normalnya adalah 0,59–1,04 mg/dL.
4. Tes LFG/GFR (laju filtrasi glomerulus/glomerular filtration rate)
Tes LFG adalah tes darah yang digunakan untuk mengukur kemampuan ginjal untuk menyaring darah. Nilai LFG yang lebih rendah menunjukkan fungsi ginjal yang lebih buruk.
Tingkat gangguan fungsi ginjal berdasarkan stadiumnya adalah sebagai berikut:
- Stadium 1 (LFG 90 ke atas): fungsi ginjal yang baik
- Stadium 2 (LFG 60–89): sedikit masalah dengan fungsi ginjal
- Stadium 3 A (LFG 45–59): masalah ringan hingga sedang dengan fungsi ginjal
- Stadium 3 B (LFG 30–44) menunjukkan masalah fungsi ginjal yang sedang hingga parah
- Stadium 4 (LFG 15–29): gangguan yang signifikan terhadap fungsi ginjal
- Stadium 5: Gagal ginjal
Dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan selain tes darah di atas, seperti USG ginjal atau foto Rontgen untuk melihat ukuran dan bentuk ginjal pasien. MRI juga dapat dilakukan untuk melihat aliran darah yang masuk ke dalam ginjal. Biopsi ginjal mungkin dilakukan dalam beberapa kasus yang jarang.
Pengobatan Nefropati Diabetik
Pengobatan nefropati diabetik bertujuan untuk mengobati kadar gula darah tinggi dan tekanan darah tinggi. Metode pengobatan dapat mencakup penggunaan obat, prosedur cuci darah, atau transplantasi ginjal. Ini adalah penjelasannya:
Obat-obatan
Obat-obatan yang dapat diberikan untuk mengatasi nefropati diabetik pada tahap awal penyakit ini antara lain:
- Antidiabetes, seperti insulin, semaglutide, dan canagliflozin
- Statin dan obat lain yang mengurangi kolesterol
- Obat untuk hipertensi, seperti ACE inhibitor (seperti captopril atau ramipril) atau angiotensin II receptor blocker (ARB), seperti irbesartan
- Finerenone, untuk menurunkan risiko jaringan parut ginjal
Prosedur cuci darah
Pasien mungkin perlu menjalani cuci darah jika kerusakan ginjal sudah parah. Dalam prosedur ini, mesin khusus digunakan untuk menyaring racun dan sisa metabolisme tubuh yang harus dibuang oleh ginjal.
Pasien mungkin akan diberikan cuci darah di rumah sakit setiap satu hingga tiga kali seminggu. Setiap sesi cuci darah biasanya berlangsung setidaknya tiga hingga lima jam.
Cuci darah juga dapat dilakukan dengan menyaring limbah menggunakan peritoneum, lapisan dalam perut. Peritoneal dialysis (CAPD) adalah istilah untuk prosedur ini. Meskipun demikian, prosedur ini tidak dapat dilakukan pada setiap pasien yang didiagnosis dengan nefropati diabetik.
Transplantasi ginjal
Transplantasi ginjal dapat memberikan hasil yang baik dan meningkatkan kualitas hidup pasien, tetapi beberapa penderita nefropati diabetik tidak dapat menjalani prosedur ini karena mereka mengganti ginjal yang sehat dari pendonor dengan organ ginjal pasien yang telah rusak.
Dokter akan menasihati pasien untuk mengikuti kebiasaan sehat, seperti:
- Mengurangi jumlah protein yang dikonsumsi
- Mengurangi jumlah garam, hanya satu sendok teh per hari
- Mengurangi konsumsi makanan tinggi kalium seperti alpukat, pisang, dan bayam
- Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung fosfor tinggi, seperti yoghurt, susu, dan daging olahan
Panduan makan yang dirancang oleh dokter gizi harus diikuti oleh penderita nefropati diabetik. Ini memastikan bahwa tubuh tetap mendapatkan nutrisi yang cukup meskipun ada beberapa batasan. Di Chat With Doctors, Anda dapat berbicara dengan ahli gizi untuk konsultasi.
Komplikasi Nefropati Diabetik
Sebagai hasil dari nefropati diabetik, komplikasi dapat berkembang secara bertahap selama beberapa bulan atau tahun. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi termasuk:
- Pembengkakan di kaki dan lengan
- Hipertensi
- Penumpukan cairan di paru-paru, juga dikenal sebagai edema paru
- Hiperkalemia
- Penyakit pembuluh darah dan jantung (kardiovaskular)
- Anemia
- Gagal ginjal pada tahap akhir
Pencegahan Nefropati Diabetik
Untuk penderita diabetes, nefropati diabetik dapat dihindari dengan memperbaiki pola hidup. Ini termasuk:
- Melakukan pemeriksaan rutin sesuai saran dokter untuk mencegah kondisi menjadi lebih buruk atau komplikasi muncul
- Mengambil obat antidiabetes yang diresepkan dokter untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil
- Mengikuti gaya hidup sehat, misalnya berolahraga secara teratur, mendapatkan istirahat yang cukup, dan mengonsumsi lebih banyak serat dari sayur-sayuran dan buah-buahan
- Menjaga berat badan ideal atau menurunkan berat badan jika mengalami obesitas
- Kerusakan ginjal dapat diperparah jika Anda merokok atau mengonsumsi alkohol