Persalinan dan Kegawatdaruratan Ibu

Retensi Plasenta

Pahami retensi plasenta ketika plasenta belum lahir dalam waktu yang diharapkan atau fragmennya tertinggal; risiko perdarahan postpartum dan infeksi; faktor risiko placenta accreta; tindakan uterotonik, pelepasan manual atau operasi oleh tim obstetri; serta perdarahan, pusing dan demam setelah melahirkan sebagai darurat.

Ditulis oleh Tim SehatKitaDiperbarui 20 Agustus 2026Waktu baca 10 menit
RingkasanRetensi plasenta berarti seluruh plasenta belum keluar setelah bayi lahir, atau jaringan plasenta tertinggal di rahim. Ini dapat mencegah rahim berkontraksi dan menyebabkan perdarahan postpartum yang mengancam nyawa. Penanganannya harus dilakukan tenaga obstetri, bukan ditarik sendiri.

Ada beberapa mekanisme

Plasenta dapat belum terlepas, sudah lepas tetapi terperangkap di balik leher rahim, atau melekat terlalu dalam seperti placenta accreta spectrum. Definisi waktu bervariasi menurut tata laksana kala tiga dan kondisi perdarahan; tim tidak menunggu batas waktu bila ibu berdarah atau tidak stabil. Riwayat retensi, persalinan prematur, operasi rahim dan accreta meningkatkan risiko.

Perdarahan dapat terjadi cepat

Darah banyak/mengalir, rahim lembek, nadi cepat, pucat, pusing atau tekanan turun dapat muncul segera. Fragmen kecil yang tertinggal dapat menyebabkan perdarahan berulang, rahim lambat mengecil, nyeri, demam atau cairan berbau hari hingga minggu kemudian. Jumlah darah yang tampak dapat meremehkan kehilangan sebenarnya.

Perdarahan setelah melahirkan adalah keadaan daruratPanggil bantuan darurat untuk darah mengalir deras, pembalut penuh dalam sekitar satu jam, gumpalan besar, pusing/pingsan, sesak, nadi cepat atau kulit dingin. Setelah pulang, demam, nyeri rahim bertambah, cairan berbau atau perdarahan kembali banyak juga perlu segera dinilai.

Resusitasi dan pengeluaran plasenta berjalan bersama

Tim memanggil bantuan, menilai jalan napas/sirkulasi, memasang infus, memeriksa darah, memberi uterotonik dan obat perdarahan sesuai protokol. Bila plasenta tetap tertahan, pelepasan manual dengan analgesia/anestesi sering diperlukan. Accreta atau perdarahan tidak terkendali dapat membutuhkan operasi, transfusi, tamponade, embolisasi atau hysterectomy.

Pemeriksaan plasenta dan follow-up penting

Setelah lahir, plasenta diperiksa kelengkapannya. Ultrasound membantu pada perdarahan postpartum terlambat tetapi tidak selalu memastikan jaringan tertinggal; diagnosis menggabungkan gejala dan pemeriksaan. Setelah tindakan, pantau anemia dan infeksi serta berikan dukungan menyusui/pemulihan. Riwayat ini perlu disampaikan pada kehamilan berikutnya.

Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada WHO — postpartum haemorrhage recommendations, ACOG — conditions to watch after childbirth. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.