Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kesehatan Anak

ADD; Attention Deficit Disorder

Pengertian attention deficit disorder

ADD (Attention Deficit Disorder) merupakan suatu bentuk kelainan yang menyebabkan seseorang sukar mengontrol perilakunya atau mengalami kesulitan untuk fokus pada sesuatu hal atau sulit menelaah suatu keadaan atau wacana.

ADD pun dikenal dengan nama lain, yaitu Attention Deficit atau Hyperactivity Disorder (ADHD). Istilah ini adalah istilah formal untuk menggambarkan gangguan ini. Situasi ini umumnya bisa mulai disadari sejak masih kanak-kanak.

Penyebab Attention Deficit Disorder

Attention Deficit Disorder (ADD) timbul karena terdapat perbedaan respons kimiawi, struktural, serta jaringan pada otak. acap kali, hal ini muncul akibat adanya permasalahan genetik.

Dalam riset yang dilakukan, menunjukkan adanya ketidaknormalan pada kinerja neurotrasmiter otak pada pengidap ADD, terutama dopamin dan norepinefrin. Neurotransmiter adalah bagian otak yang bertugas membantu komunikasi antar sel saraf serta mengaktifkan berbagai fungsi otak.

Dalam penelitian menggunakan pencitraan menunjukkan perbedaan antara aktivitas otak penderita ADD dengan mereka yang tidak menderita ADD. Pada penderita ADD ditemukan terdapat penurunan aktivitas otak, terlebih pada bagian premotor cortex serta prefrontal cortex.

Kedua area tersebut dipandang penting untuk aktivitas motorik serta kesanggupan memberi perhatian. Didapati pula kelainan pada struktur otak penderita ADD, contohnya pada volume otak, dan pada pemetaan gray serta white matter otak.

Diprediksi terdapat pola jaringan yang buruk antar bagian otak dan juga terjadinya jalur komunikasi yang berbeda dalam otak penderita ADD. Penyakit ini mengakibatkan seorang dengan ADD sulit memberikan kinerja seperti orang tidak dengan ADD oleh karena itu bisa jadi membutuhkan upaya lebih keras untuk terlibat dalam berbagai kegiatan normal hari-harinya.

Diagnosis pada ADD

Dalam mendiagnosis attention Deficit Disorder (ADD) adalah hal yang rumit serta membutuhkan bantuan seorang ahli untuk bisa menentukan kondisi tersebut. Seperti dokter ahli psikiatri, psikolog, dan sebagainya.

Kerap kali, diagnosis akan diberikan setelah observasi perilaku dalam beberapa kemungkinan ataupun keadaan yang lain. Penilaian yang dibutuhkan untuk menentukan ADD bisa berupa:

  • Menyatukan informasi tentang riwayat keluarga dan riwayat medis pasien.
  • Tes fisik.
  • Tanya jawab dengan orang tua, anak, bahkan guru.
  • Melakukan pengisian kuesioner yang berhubungan dengan perilaku anak, oleh orang tua dan guru.
  • Pengamatan terhadap anak atau pasien.

Dan berbagai pemeriksaan psikososial untuk Menguji IQ, kemampuan sosial dan emosional, serta mendeteksi adanya jenis kesulitan belajar yang dialami. Beberapa hal yang bisa dijadikan patokan dalam membuat diagnosis adalah:

  • Terdapat gejala inatensi (tidak ada perhatian), hiperaktivitas, impulsif selama setidaknya enam bulan gejala tersebut berlangsung yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan seseorang.
  • Sebelum usia 7 tahun terdapat beberapa gejala yang menimbulkan gangguan harus muncul.
  • Tanda dan gejala yang mengakibatkan gangguan muncul pada dua atau lebih keadaan yang berbeda seperti, dirumah dan sekolah.
  • Terdapat bukti gangguan yang signifikan secara klinis dalam melakukan fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
  • Gejala tidak timbul ketika ada gangguan Pervasive Development Disorder, Skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya dan bukan diakibatkan oleh masalah mental lain.
Gejala ADD

Terdapat beberapa grup besar gejala yang muncul pada seseorang dengan Attention Deficit Disorder (ADD).

Gejala inatensi, Contohnya:

  • Susah memperhatikan detail dan teledor.
  • Tidak fokus dengan jangka waktu yang lama dalam mengerjakan tugas atau bermain.
  • Abai ketika diajak berbicara.
  • Susah memahami perintah dan sulit menyelesaikan tugas.
  • Sulit mengorganisasi tugas.
  • Suka menghindari atau tidak suka dengan tugas yang membutuhkan fokus berkepanjangan. Misalnya: tugas sekolah atau PR.
  • Selalu kehilangan barang yang dibutuhkan ketika akan mengerjakan tugas.
  • Gampang teralihkan perhatiannya.
  • Mudah lupa.

2. Gejala hiperaktivitas, misalnya:

  • Selalu menggerakkan tangan dan kaki, dan gelisah apabila duduk.
  • Tidak mau diam di tempat duduk ketika berada di dalam kelas.
  • Berlari atau memanjat dengan berlebihan disaat situasi dan waktu yang tidak tepat.
  • Susah bermain atau melakukan kegiatan dengan hening.kerap kali bicara secara berlebihan

3. Gejala impulsif, misalnya:

  • Selalu memberikan jawaban padahal pertanyaan belum selesai.
  • Tidak sabar menunggu untuk bergantian.
  • Senang menginterupsi orang lain bicara.

Pengobatan ADD

Dalam hasil penelitian menunjukkan penanganan penderita Attention Deficit Disorder (ADD) lewat kombinasi obat-obatan dan terapi adalah cara paling tepat dan efektif. Obat yang diberikan akan berfungsi membantu aktivitas otak agar menjadi lebih tenang dan normal.

Walaupun begitu pemberian obat perlu dipantau oleh dokter. Obat yang diberikan misalnya adalah golongan psikostimulan. Dan, pengobatan ini seharusnya dikombinasikan dengan terapi, misalnya cognitive behavioral therapy. Adanya kelompok terapi atau dukungan group bisa membantu masalah emosional yang dialami penderita ADD, contohnya rasa bersalah, stres, malu, dan sebagainya.

Pencegahan ADD

Sejauh ini belum ditemukan langkah atau tindakkan pencegahan yang efektif untuk Attention Deficit Disorder (ADD). Serangkaian terapi bisa membantu pasien serta orang-orang di sekitar lingkungannya agar mengendalikan perilaku dan menghindarkan pasien agar tidak merasa tertekan dengan kondisi lingkungan yang dihadapinya.