Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kelamin

Fistula Ani

Fistula ani adalah adanya saluran  tidak normal pada ujung usus besar dan kulit pada area anus. Hal ini terjadi karena adanya infeksi yang berkembang menjadi benjolan yang berisi nanah di area anus.

Abses yang berada di dekat anus bisa terus berkembang jika tidak segera diatasi. Perlahan-lahan, nanah dalam abses ini akan bergerak mencari jalan keluar dari tubuh dan membuat saluran di bawah kulit sampai ke anus. Hal inilah yang dikatakan fistula ani.

Fistula ani bisa mengakibatkan sakit dan membengkak di sekitar anus, juga mengeluarkan nanah berbau busuk ketika buang air besar. Hal ini lebih sering diderita oleh pria dan akan muncul pertama kali di usia seseorang memasuki 40 tahun.

Penyebab fistula ani

Fistula ani terjadi akibat abses anus yang tidak segera diatasi atau tidak sembuh total. Seiring berjalannya waktu, penimbunan nanah pada abses anus akan mendorong area di sekitarnya serta mencari jalan keluar. Akhirya, terciptalah sebuah saluran dari abses ke anus atau dubur yang disebut fistula ani.

Fistula ani juga bisa terbentuk karena beberapa kondisi seperti di bawah ini:

  • Penyakit crohn
  • Cacat pada anus
  • Peradangan pada divartikula
  • Terdapat tumor atau kanker pada usus besar
  • Cedera pada lapisan anus (fisura ani)
  • Penyakit menular seksual, termasuk didalamnya lymphogranuloma venereum (LGV)
  • Infeksi karena bakteri, seperti tuberkulosis atau aktinomikosis
  • Terapi radiasi
  • Komplikasi akibat operasi pada area anus

Terdapat sejumlah faktor risiko yang bisa meningkatkan seseorang menderita fistula ani, seperti:

  • Laki-laki (pria)
  • Usia yang berpotensi antara 20–40 tahun
  • Obesitas, atau mempunyai berat badan berlebih
  • Diabetes
  • Merokok
  • Mengalami kolesterol tinggi
  • Malas berolahraga atau beraktivitas fisik

Gejala fistula ani

Gejala-gejala yang bisa timbul akibat fistula ani, seperti:

  • Sakit di area anus yang terasa makin parah ketika duduk, bergerak, buang air besar, juga batuk
  • kulit iritasi di seputar anus, seperti kemerahan, bengkak, dan gatal
  • Berdarah ketika buang air besar
  • Nanah yang berbau busuk keluar dari kulit dekat lubang anus
  • Meriang, demam dan kelelahan

Saatnya ke dokter

Apabila Anda mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan di atas, segera periksakan ke dokter. Terutama bila pernah menderita fistula ani sebelumnya, sebab hal ini akan bisa kambuh kembali. Ini penting dikerjakan untuk menangani masalah sedini mungkin untuk menghidari terjadinya komplikasi.

Pada mereka (orang-orang) yang menderita abses anus, penyakit menular seksual, juga Crohn, lebih mudah mengalami fistula ani. Maka dari itu, bila Anda mengalami penyakit yang disebutkan tadi, periksakan secra rutin ke dokter supaya keadaannya terus terpantau dan fistula ani bisa dicegah.

Diagnosis fistula ani

Mula-mula, dokter akan menanyakan gejala yang dirasakan oleh pasien serta riwayat kesehatannya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada area anus dan sekitarnya.

Dokter juga akan mengecek tanda iritasi di anus serta area sekitarnya, dan melihat apakah terdapat lubang kecil di dekat bukaan anus dan mengeluarkan nanah saat ditekan. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan tusuk dubur agar bisa memastikan adanya fistula ani.

sebagian fistula bisa ditemukan hanya lewat pemeriksaan fisik, namun sebagiannya lagi tidak menunjukkan tanda-tanda di permukaan kulit sehingga membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Berikut adalah beberapa jenis pemeriksaan pendukung yang dibutuhkan untuk memastikan diagnosis fistula ani:

  • Proktoskopi, yakni pemeriksaan menggunakan alat khusus dengan lampu pada ujungnya, untuk melihat kondisi di dalam anus
  • Fistula probe, yakni pemeriksaan menggunakan alat serta pewarna khusus, untuk mengenal lokasi saluran fistula dan abses
  • Anoskopi, adalah pemeriksaan menggunakan alat khusus berupa spekulum anus, untuk melihat saluran di dalam anus
  • Kolonoskopi, adalah pemeriksaan menggunakan selang berisi kamera yang diselipkan kedalam anus untuk melihat keadaan usus besar serta penyebab fistula ani

Pengobatan fistula ani

Untuk melakukan pengobatan pada fistula ani tergantung oleh tempat serta tingkat keparahannya. Meskipun maksud pengobatannya adalah untuk membersihkan nanah dari dalam serta menghilangkan fistula dengan tetap melindungi otot-otot anus.

Beberapa jenis pengobatan dengan metode operasi untuk mengatasi fistula ani adalah:

  1. Fistulotomi
    Operasi ini dilakukan apabila posisi fistula ani tidak atau hanya sedikit berhubungan dengan otot sfingter. Operasi Fistulotomi dikerjakan dengan membuka kulit juga otot saluran fistula ani, lalu membersihkan area itu serta membiarkannya terbuka agar tercipta proses penyembuhan alami dari dalam.
  2. Penyumbatan fistula
    Penutupan fistula dilakukan sesudah nanah dikeluarkan. Dalam prosedur ini, saluran fistula akan ditutup dengan bahan khusus yang bisa terserap oleh tubuh, hingga akhirnya menutup fistula.
  3.  Pemasangan seton
    Untuk prosedur ini, bahan sejenis benang (seton) akan dipasang lewat lubang fistula dalam bentuk seperti simpul. Begitupun, saluran fistula bisa menjalar serta nanah dari abses bisa keluar.

    Tingkat kekuatan ikatan benang akan ditata oleh dokter agar saluran fistula bisa merapat pada masa penyembuhan. Bila saluran telah tertutup, benang akan dilepas. Biasanya, benang seton dipasang selama 45 hari.

  4. Pemasangan jaringan (advancement flap procedure)
    Cara ini bisa dilakukan jika fistula lewat otot sfingter. Pada prosedur ini, saluran fistula akan dibelah, dibersihkan, lalu ditambal dengan jaringan yang diangkat dari rektum (bagian akhir usus besar) ,karena sifatnya yang mirip otot sfingter.
  5. Pengikatan saluran fistula atau prosedur LIFT
    Prosedur LIFT (ligation of the intersphincteric fistula tract) bisa menjadi solusi jika fistula lewat otot sfingter. Langkah ini dilakukan dengan melakukan sayatan di atas fistula, mengambil bagian tengahnya yang meradang, lalu mengikat dan menjahit setiap ujung-ujungnya agar saluran tersebut menutup.

Setelah melalukan operasi, dokter biasanya akan memberi resep obat pereda nyeri serta antibiotik untuk mencegah infeksi dan mengatasi nyeri  setelah operasi. Lain dari itu, pasien disarankan untuk melakukan kunjungan beulang ke dokter untuk memastikan fistula ani benar-benar sembuh.

Perawatan setelah operasi

agar proses penyembuhan bisa lebih cepat, dokter akan menganjurkan pasien untuk melakukan rawat mandiri luka setelah operasi. Perawatannya, adalah:

  • Merendam bagian bokong dalam air hangat sebanyak 3–4 kali sehari
  • Menggunakan bantalan pada area anus sepanjang masa pemulihan luka
  • Mengonsusmsi makanan kaya serat serta minum air untuk menghindari sembelit
  • Bila dibutuhkan, mengonsumsi obat pencahar supaya tinja lunak

Setelah itu pasien bisa beraktivitas dengan normal setelah dinyatakan sembuh oleh dokter.

Bisa saja terjadi beberapa komplikasi akibat fistula ani atau operasi, seperti:

  • Tidak mampu menahan tinja Inkontinensia alvi
  • Terjadi lagi fistula ani (bahkan lebih parah)
  • Penyempitan anus (Stenosis anus)

Pencegahan Fistula Ani

Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah risiko terbentuknya fistula ani, yaitu:

  • Selalu menjaga kebersihan alat kelamin, anus, juga area di sekitarnya
  • Berhubungan seksual yang sehat, tidak berganti-ganti  pasangan
  • Hindari rokok bahkan asapnya sekalipun
  • Menerapkan pola makan sehat dengan gizi yang seimbang, dan minum air putih dalam jumlah yang cukup
  • Melakukan pengobatan serta rutin kontrol ke dokter bila mengalami penyakit yang bisa mengakibatkan risiko terjadinya fistula ani