Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Kejang

Kejang

Kejang merupakan gangguan aktivitas listrik di otak yang muncul dengan spontan. Hal ini biasanya ditandai dengan gerakan tubuh yang tidak terkendali, bahkan dapat mengakibatkan penurunan kesadaran. Kejang dapat menjadi gejala penyakit otak atau hal lain yang memengaruhi otak.

Banyak masyarakat yang beranggapan jika kejang akan selalu ditandai dengan tubuh yang bergetar tidak terkendali. Sedangkan, beberapa jenis kejang mempunyai gejala yang sulit dikenali, seperti tatapan mata yang tiba-tiba kosong.

Masa kejang umumnya berlangsung singkat, antara 30 detik sampai 2 menit. Apaila berlangsung lebih dari 2 menit, kejang tersebut termasuk gawat darurat sehingga memerlukan penanganan medis segera.

Penyebab Kejang

Kejang disebabkan oleh terganggunya pada sebagian atau seluruh aktivitas listrik di otak. Gangguan ini bisa dipicu oleh gangguan di otak atau kondisi lain yang secara tidak langsung mengganggu fungsi otak, seperti berikut ini:

Gangguan di otak

Gangguan-gangguan di otak yang mengakibatkan kejang adalah:

  • Epilepsi
  • Tumor otak atau kanker otak stadium 4 atau tumor di kepala yang menekan otak
  • Stroke
  • Infeksi pada selaput otak (meningitis)
  • Infeksi otak (ensefalitis)
  • Cacat bawaan lahir pada otak
  • Cedera di kepala bayi ketika lahir
  • Cedera kepala, misalnya subdural hematoma
  • Kelainan pada pembuluh darah di otak
  • Celebral palsy
Faktor yang memengaruhi otak

Sementara kondisi lain yang bisa memengaruhi otak dan memicu kejang adalah:

  • Penyakit jantung
  • Preeklamsia
  • Demam tinggi
  • Tekanan darah tinggi yang tidak dapat terkontrol
  • Gangguan elektrolit, seperti hiponatremia
  • Penyakit autoimun, seperti lupus
  • Penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya
  • Gejala putus zat
  • Gula darah abnormal
  • Racun menumpuk di dalam tubuh karena gagal hati atau gagal ginjal
  • Sengatan hewan atau gigitan hewan berbisa
  • Keracunan
  • Tersengat listrik

Kejang juga adalah gejala dari gangguan somatoform, yakni salah satu jenis gangguan psikologis.

Gejala Kejang

Kemunculan kejang sering ditandai dengan kontraksi otot yang diikuti dengan gerak menyentak pada seluruh tubuh. Akan tetapi, gejala kejang sebenarnya dapat bervariasi, tergantung pada area otak yang mengalami gangguan serta tingkat keparahannya.

Ciri-ciri gejala pada kejang yang melibatkan sebagian area otak antara lain:

  • Gangguan respon pada penglihatan, pendengaran, atau penciuman
  • Melakukan gerakan berulang, misalnya menggosok tangan atau jalan berputar-putar
  • Gerak menghentak pada salah satu bagian tubuh, seperti lengan atau tungkai
  • Perubahan pada suasana hati (mood)
  • Susah berbicara
  • Pusing atau mual
  • Kesemutan

Untuk kejang yang memengaruhi keseluruhan bagian otak, gejala yang biasa terjadi adalah:

  • Tubuh kaku yang diikuti dengan gerakan menghentak di seluruh tubuh
  • Gerakan menyentak di wajah, leher dan tangan
  • Otot hilang kendali sehingga bisa membuat penderita tiba-tiba jatuh
  • Kaku otot, khususnya pada punggung serta tungkai
  • Pandangan hampa ke satu arah
  • Mata berkedip cepat

Selain gejala di atas, terdapat sejumlah gejala lain yang muncul ketika seseorang kejang, yaitu:

  • Menurunnya kesadaran secara sesaat
  • Linglung
  • Perubahan perilaku
  • Mulut berbusa atau mengiler/ngences
  • Napas berhenti beberapa saat

Umumnya gejala kejang hanya berlangsung selama beberapa saat hingga beberapa menit. Sebelum terjadi kejang, penderitanya sering kali mendapati gejala peringatan, yakni cemas, mual, vertigo, dan seperti melihat ada kilatan cahaya di mata.

Saatnya ke dokter

Apabila Anda mendapati seseorang yang mengalami kejang lebih dari 2 menit, secepatnya bawa orang tersebut ke dokter atau cari pertolongan ke IGD rumah sakit terdekat. Pemeriksaan serta penanganan juga harus dilakukan pada penderita kejang yang:

  • Mengalami kejang yang pertama kalinya
  • Tidak sadar-sadar setelah mengalami kejang
  • Kejang berulang-ulang
  • Sedang hamil, cedera, atau mengidap diabetes
  • Demam tinggi

Diagnosis Kejang

Bila pasien masuk ke rumah sakit dengan keadaan masih kejang, dokter akan melakukan penindakan terlebih dahulu. Kemudian, dokter akan menanyakan tentang gejala dan riwayat medis pasien.

Agar diagnosis dapat dipastikan, dokter akan merekomendasikan pasien untuk mengikuti pemeriksaan lanjutan, seperti:

  • Tes darah, untuk mengetahui infeksi serta gangguan elektrolit
  • Pemindaian menggunakan MRI dan CT scan, untuk mengetahui perdarahan, tumor, atau gangguan lain di dalam otak
  • Tes fungsi lumbal, untuk mengetahui infeksi pada otak dengan memeriksa sampel cairan otak
  • Elektroensefalografi (EEG), untuk mengamati aktivitas listrik di otak dengan menempelkan elektroda pada kulit kepala

Pengobatan Kejang

Penindakan pada penderita kejang bisa dibagi dengan pertolongan pertama dan penanganan di rumah sakit. Dibawah ini adalah penjelasan dari setiap tindakan penanganan kejang:

Pertolongan pertama pada penderita kejang

Pertolongan pertama yang dilakukan pada penderita kejang adalah dengan mencegah terjadinya cedera. Upaya yang mesti dilakukan pada kondisi ini antara lain:

  • Rebahkan penderita di tempat yang aman dari benda berbahaya atau benda tajam.
  • Jangan gunakan cara kekerasan untuk meedakan gerakan penderita.
  • Beri bantal atau alas lain untuk menyangga kepala penderita.
  • Hindari memasukkan benda apa pun ke dalam mulut penderita ketika sedang kejang.
  • Gunakan pakaian yang longgar, terutama di bagian leher penderita.
  • Letakkan kepala penderita miring ke kanan atau kiri, muntahannya masuk ke dalam tenggorokan.
  • Secepatnya panggil bantuan medis dari IGD atau pusat kesehatan terdekat.
  • Dampingi penderita hingga kejangnya berhenti atau sampai petugas medis datang.
Penanganan kejang di rumah sakit

Pada saat penderita kejang sampai di rumah sakit dan mendapatkan pertolongan, nantinya dokter akan memberikan obat antikejang agar kondisi pasien kembali pulih dan stabil. Jenis serta dosis obat antikejang yang diberikan bisa berbeda pada tiap pasien.

Apabila penyebab kejang sudah ditemukan, dokter akan memberikan pengobatan sesuai penyebabnya. Pengobatan yang diberikan bisa dengan pemberian obat, operasi sebagai perbaikan kelainan otak, atau penanaman alat khusus yang membantu pengontrolan aliran listrik di otak.

Selain mengikuti perawatan medis, penderita kejang karena epilepsi akan disarankan untuk menjalani diet ketogenik. Diet tersebut berupa pola makan tinggi lemak serta rendah karbohidrat.

Diet ketogenik diyakini bisa mencegah atau mengurangi serangan kejang pada epilepsi, khususnya pada anak-anak. Namun, diet ini dapat memberikan bermacam efek samping. Maka dari itu, konsultasikan terlebih dulu dengan dokter sebelum menjalaninya.

Komplikasi Kejang

Kejang yang tidak segera mendapatkan penanganan dengan tepat akan berisiko kambuh di waktu yang tidak terduga. Ini akan membahayakan kesehatan diri sendiri atau orang lain, seperti:

  • Tenggelam
  • Cedera karena terjatuh
  • Kecelakaan dalam berkendara
  • Komplikasi kehamilan
  • Gangguan kecemasan atau depresi

Walau jarang terjadi, penderita kejang dapat mengalami kejang terus-menerus, atau biasa dikenal sebagai status epileptikus. Hal ini tergolong gawat darurat karena bisa meningkatkan risiko terjadinya kerusakan otak permanen, pneumonia aspirasi, atau kematian.

Pencegahan Kejang

Secara umum, belum ada cara yang bisa mencegah kejang. Namun, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko terkena kondisi ini, seperti:

  • Istirahat yang cukup, serta tidur malam dengan waktu yang tepat
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  • Rutin berolahraga
  • Hindari stres
  • Jangan menggunakan narkotika dan zat adiktif lainnya
  • Mengobati kondisi medis yang sedang diderita

Pencegahan Cedera saat Kejang

Sebelumnya sudah disebutkan jika kejang bisa membahayakan diri sendiri juga orang lain. Untuk mencegah hal ini, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, seperti:

  • Jangan berenang atau berendam di bak mandi ketika sendirian
  • Hindari mengendarai mobil atau motor sendirian
  • Lengkapi kursi dan meja di rumah dengan bantalan
  • Menggunakan karpet yang tebal di lantai