Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Infeksi, Kelamin, Kesehatan Wanita, Penyakit Kelamin

Radang Vagina

Ketika vagina peradangan karena infeksi, iritasi, atau cedera, itu disebut radang vagina. Ini dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti keputihan, gatal, maupun nyeri pada vagina.

Radang vagina atau vaginitis adalah gejala bukan penyakit. Dalam kebanyakan kasus, radang vagina disebabkan oleh infeksi yang terjadi karena kesalahan dalam perawatan kebersihan vagina. Namun, selain itu, radang vagina juga dapat disebabkan oleh kondisi non-infeksi, seperti alergi atau iritasi.

Baik wanita dewasa maupun anak-anak dan remaja dapat mengalami radang vagina, yang dapat diobati dengan mudah. Namun, jika tidak ditangani dengan segera, radang vagina dapat berkembang menjadi gejala yang lebih parah dan berbahaya.

Penyebab Radang Vagina

Baik infeksi maupun noninfeksi dapat menyebabkan radang vagina. Berikut adalah beberapa penyebab radang vagina:

Infeksi

Vaginosis bakterialis adalah radang vagina yang paling umum disebabkan oleh infeksi. Kondisi ini terjadi karena perubahan pH vagina, yang seharusnya asam menjadi lebih basa, menyebabkan berkurangnya jumlah bakteri baik (Lactobacilli) di vagina.

Dengan berkurangnya jumlah bakteri baik, bakteri jahat menjadi dominan dan menyebabkan radang vagina.

Ada beberapa infeksi tambahan yang dapat menyebabkan radang vagina:

  • Penyebaran jamur Candida
  • Klamidia
  • Trikomoniasis
  • Gonore
  • Virus papiloma manusia (HPV)
  • Virus herpes simplex
Faktor risiko radang vagina akibat infeksi

Faktor-faktor berikut meningkatkan kemungkinan terkena radang vagina:

  • Berusia 2 sampai 6 tahun dan tidak memahami cara menjaga kebersihan vagina
  • Sudah menopause
  • Bersihkan area vagina setelah membersihkan anus
  • Membersihkan bagian dalam vagina dengan gurah atau sabun
  • Area kelamin sering lembap karena sering menggunakan pakaian yang terlalu ketat
  • Lupa mengganti pembalut setiap empat jam
  • Area kelamin tidak boleh dikeringkan sebelum memakai pakaian dalam
  • Terapi dengan antibiotik atau kortikosteroid
  • Diabetes tidak diobati dengan teratur
  • Mempunyai masalah dengan sistem kekebalan tubuh, seperti HIV/AIDS dan transplantasi organ
  • Memiliki masalah tiroid atau hormonal
  • Aktivitas seksual
  • Pasangan seksual yang sering berubah
  • Merokok
Noninfeksi

Iritasi atau atrofi vagina dapat menyebabkan radang vagina akibat kondisi noninfeksi. Iritasi dapat disebabkan oleh penggunaan produk vagina dengan bahan yang keras, seperti spermisida, pengharum, atau pewangi, sementara atrofi vagina dapat disebabkan oleh perubahan hormon yang terjadi setelah menopause.

Faktor risiko radang vagina noninfeksi

Faktor-faktor berikut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya radang vagina noninfeksi:

  • Sudah menopause
  • Memakai pelumas vagina atau alat kontrasepsi yang mengandung spermisida
  • Memakai produk vagina, seperti spray atau sabun, yang mengandung bahan kimia seperti pengharum, deterjen, atau pewangi
  • Melakukan ratus atau membersihkan bagian dalam vagina
  • Baru saja melahirkan atau menyusui
  • Menggunakan obat yang dapat mengurangi estrogen

Gejala Radang Vagina

Gejala radang vagina dapat berbeda tergantung pada penyebabnya, tetapi mereka mungkin sama. Berikut adalah gejala yang paling umum untuk jenis radang vagina:

Vaginosis bakterialis

Beberapa gejala vaginosis bakterialis yang menyebabkan radang vagina adalah:

  • Bau yang tidak menyenangkan dari vagina, terutama saat menstruasi atau saat berhubungan seksual
  • Gatal atau iritasi di vagina
  • Rasa terbakar saat buang air kecil
  • Cairan vagina yang berwarna keabu-abuan atau kehijauan
Infeksi jamur candida

Dalam kasus infeksi jamur candida, gejala radang vagina dapat meliputi:

  • Keputihan yang padat dan menyerupai gumpalan keju
  • Keluarnya keputihan cair yang tidak berbau
  • Rasa gatal, kemerahan, panas, atau bengkak di vagina dan bibir kemaluan (labia)
  • Karena kulit di sekitar vagina sangat sensitif, terdapat luka kecil di sana
  • Panas atau nyeri saat buang air kecil
Trikomoniasis

Salah satu gejala radang vagina akibat trikomoniasis adalah:

  • Keputihan berbusa dengan bau busuk dan warna kuning kehijauan
  • Nyeri dan gatal di sekitar area vagina
  • Panas dan nyeri ketika buang air kecil
  • Rasa tidak nyaman di perut bagian bawah dan nyeri di vagina saat berhubungan seksual, yang dapat memburuk setelah menstruasi
Klamidia

Jika klamidia menyebabkan radang vagina, gejalanya dapat berupa:

  • Keputihan (kadang-kadang terjadi)
  • Karena leher rahim yang sensitif karena peradangan, mungkin terjadi perdarahan kecil setelah berhubungan intim
  • Rasa sakit di bagian bawah perut dan panggul
Gonore

Gejala radang vagina yang disebabkan oleh gonore termasuk:

  • Darah di antara menstruasi
  • Keputihan yang tidak normal
  • Rasa sakit di perut
  • Rasa sakit saat berhubungan seksual
Herpes simplex virus (HSV)

Salah satu gejala utama radang vagina akibat herpes adalah luka seperti sariawan yang terasa nyeri, yang biasanya dapat dilihat di sekitar vagina. Namun, luka di dalam vagina juga dapat terjadi dan hanya dapat dilihat setelah dokter memeriksanya.

Human papillomavirus (HPV)

Kutil kelamin pada vagina berwarna putih atau abu-abu adalah gejala radang vagina akibat human papillomavirus. Namun, kutil tidak selalu dapat dilihat secara langsung. Terkadang, dokter dapat menemukan kutil baru selama pemeriksaan.

Vaginitis noninfeksi

Gejala vaginitis noninfeksi termasuk:

  • Vagina yang mengalami ketidaknyamanan, panas, atau iritasi
  • Keputihan berwarna hijau atau kuning yang tebal dan berbentuk seperti lendir
Vaginitis atrofi

Di antara gejala vaginitis atrofi adalah:

  • Menyebabkan nyeri saat berhubungan seksual
  • Gatal dan panas di vagina
  • Meningkatnya frekuensi buang air kecil
Saatnya ke dokter

Jika Anda mengalami salah satu gejala di atas, jangan ragu untuk mengunjungi dokter Anda, terutama jika gejala tersebut disertai dengan:

  • Demam
  • Menggigil
  • Sakit panggul
  • Ganti-ganti pasangan seksual
  • Sebelum ini pernah mengalami infeksi vagina

Diagnosis Radang Vagina

Dokter akan menanyakan hal-hal berikut kepada pasien untuk mendiagnosis radang vagina:

  • Gejala yang ditimbulkan
  • Kegiatan seksual
  • Penyakit sebelumnya
  • Obat yang lagi dikonsumsi

Dokter membutuhkan informasi di atas untuk menentukan pemeriksaan yang tepat dan tepat sasaran untuk kondisi Anda, sehingga pengobatan yang diberikan juga tepat dan efektif.

Selanjutnya, dokter dapat melakukan pemeriksaan panggul untuk mengidentifikasi keputihan dan peradangan. Jenis pemeriksaan tambahan yang mungkin dilakukan termasuk:

  • Uji sampel cairan vagina atau serviks untuk menentukan jenis infeksi atau tanda peradangan
  • Tes pH asam-basa dinding vagina
  • Cek urine

Pengobatan Radang Vagina

Pengobatan radang vagina tergantung pada penyebabnya. Ini dapat diobati secara mandiri atau dengan obat yang diresepkan oleh dokter.

Penanganan mandiri

Untuk mengurangi sakit dan gatal pada vagina, Anda dapat melakukan pengobatan sendiri. Beberapa tindakan yang dapat Anda ambil adalah:

  • Menempelkan es pada area vagina dengan kain atau handuk
  • Merendam area kelamin Anda dengan air dingin untuk mengurangi gatal
  • Semprotkan air hangat pada vagina
  • Menghindari produk pembersih vagina yang mengandung pewangi atau deterjen
  • Mencuci pakaian dalam dengan deterjen yang memiliki bahan lembut
  • Area kelamin harus dibersihkan sebelum memakai pakaian dalam
  • Ganti pakaian setiap kali terasa lembap
  • Makan obat antihistamin seperti cetirizine atau chlorpheniramine
Pemberian obat-obatan

Dokter dapat memberikan obat untuk mengobati radang vagina, seperti:

  • Antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab infeksi, seperti metronidazole atau clindamycin
  • Infeksi jamur dapat diobati dengan antijamur seperti miconazole, clotrimazole, atau tioconazole
  • Estrogen untuk menyembuhkan vaginitis atrofi

Komplikasi Radang Vagina

Komplikasi yang mungkin disebabkan oleh penyakit ini dapat dibagi menjadi beberapa kategori, tergantung pada jenis radang vagina yang dialami:

Komplikasi radang vagina non-infeksi
  • Peningkatan kemungkinan infeksi vagina, termasuk infeksi menular seksual
  • Menyebabkan nyeri saat berhubungan seksual
  • Peningkatan risiko infeksi saluran kemih
  • Gangguan berkemih, atau ketidakmampuan untuk menahan kencing
Komplikasi radang vagina akibat infeksi
  • Meningkatnya kemungkinan terkena HIV dan infeksi menular seksual lainnya
  • Nyeri panggul yang persisten
  • Rasa sakit saat berhubungan seksual
  • Menurunnya keharmonisan dengan pasangan
  • Penyebaran penyakit peradangan ke panggul atau bahkan organ lain, seperti otak
  • Kemandulan
  • Risiko kanker sistem reproduksi meningkat
Komplikasi radang vagina akibat infeksi pada kehamilan
  • Risiko kehamilan ektopik meningkat
  • peningkatan kemungkinan kelahiran prematur atau bayi berbobot rendah
  • Infeksi yang ditularkan ke bayi

Pencegahan Radang Vagina

Tidak semua radang vagina dapat dicegah, tetapi Anda dapat mengurangi risikonya dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Sebelum memakai pakaian dalam, pastikan vagina telah dibersihkan dan kering
  • Setelah buang air kecil atau buang air besar, bersihkan area kelamin dengan urutan bibir vagina dan vagina terlebih dahulu sebelum anus
  • Jangan menggunakan pembalut, panty liner, atau celana menstruasi dengan pewangi
  • Hentikan penggunaan produk pengharum vagina apa pun
  • Tidak menggunakan sabun busa terlalu sering karena dapat mengubah pH vagina
  • Ggunakan pakaian dalam yang terbuat dari katun yang tidak gampang lembap
  • Ganti pakaian dalam setidaknya sekali setiap hari atau setiap kali pakaian dalam basah atau kering, seperti setelah berolahraga
  • Cepat ganti pakaian basah, setelah berenang
  • Untuk kulit sensitif, gunakan deterjen yang tidak memiliki pewangi
  • Pastikan pasangan seksual tetap
  • Saat melakukan hubungan seksual, pastikan untuk menggunakan kondom