Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Gangguan Hormon, Kesehatan Wanita

Menopause

Menopause adalah selesainya siklus menstruasi secara alami yang umumnya terjadi ketika wanita memasuki usia 45–55 tahun. Seorang wanita akan dipastikan menopause bila tidak lagi mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut.

Bukan hanya ditandai dengan berhentinya menstruasi, menopause pada wanita juga mengalami banyak perubahan, mulai dari penampilan fisik, kondisi psikologis, hingga hasrat seksual. Selain itu, wanita yang telah menopause juga tidak dapat hamil kembali.

Peralihan tubuh ketika menopause dapat terjadi secara bertahap atau tiba-tiba. Masa terjadinya perubahan tersebut dinamakan masa perimenopause. Masa ini bisa berlangsung beberapa tahun sebelum menopause dan biasanya dimulai ketika usia 40 tahun, namun bisa juga terjadi lebih awal.

Penyebab Menopause

Menopause adalah proses alami yang terjadi pada seorang wanita yang bertambah tua. Seiring bertambahnya usia, indung telur akan makin sedikit mempabrikasi hormon kewanitaan. Dampaknya, indung telur tidak lagi melepaskan sel telur dan menstruasi tidak muncul lagi.

Akan tetapi, pada beberapa kasus, menopause juga bisa terjadi lebih dini, yakni sebelum memasuki usia 40 tahun. Menopause dini terjadi akibat:

  • Primary ovarian insufficiency
    POI (Primary ovarian insufficiency) terjadi karena kelainan genetik atau penyakit autoimun, yang menjadikan indung telur berhenti berfungsi. Primary ovarian insufficiency adalah kejadian langka yang hanya terjadi pada 1% populasi wanita di dunia.
  • Histerektomi (Operasi pengangkatan rahim)
    Setelah operasi pengangkatan rahim dilakukan, biasanya seorang wanita memang tidak akan langsung mengalami menopause, namun cenderung mengalami menopause lebih awal. akan tetapi, menopause bisa langsung terjadi setelah histerektomi apabila indung telur ikut diangkat.
  • Pengobatan kanker
    Kemoterapi atau radioterapi untuk mengobati kanker rahim bisa merusak indung telur sehingga memicu menopause dini. Tetapi, risiko terjadinya menopause dini tergantung dari obat kemoterapi yang digunakan, lokasi radioterapi, dan usia penderita pada saat pengobatan dilakukan.

Gejala Menopause

Menopause mempunyai gejala saat wanita memasuki masa perimenopause, yakni beberapa bulan atau beberapa tahun sebelum menstruasi benar-benar berhenti. Waktu dan tingkat keparahan gejala yang timbul akan berbeda-beda pada tiap wanita.

Gejala atau tanda-tanda menopause bisa berupa:

1. Perubahan siklus menstruasi

Pada masa perimenopause, wanita akan mulai mengalami perubahan siklus menstruasi, seperti:

  • Menstruasi mulai tidak teratur, kadang terlambat, kadang datang lebih awal dari biasanya (oligomenorea)
  • Darah yang keluar ketika menstruasi akan lebih sedikit atau makin banyak
2. Penampilan fisik berubah

Biasanya perubahan penampilan fisik yang dialami wanita perimenopause adalah:

  • Rambut mulai rontok
  • Kulit kering
  • Payudara mengendur
  • Sensasi nyeri sendi dan kaku
  • Berat otot dan tulang berkurang
  • Berat badan bertambah
3. Perubahan psikologis

Terjadinya perubahan psikologis pada wanita perimenopause, seperti:

  • Suasana hati yang sering berubah-ubah atau moody
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Cepat lelah
  • Sulit tidur
  • Depresi
4. Perubahan seksual

Perimenopause juga bisa merubah mood seksual, seperti:

  • Vagina mengering
  • Gairah seksual menurun

Selain perubahan-perubahan diatas, gejala lain yang bisa terjadi pada wanita perimenopause adalah:

  • Selalu merasa gerah dan panas, sehingga mudah berkeringat (hot flashes)
  • Berkeringat pada malam hari
  • Migrain
  • Sakit kepala
  • Nyeri pada sendi
  • Jantung berdebar
Saatnya ke dokter

Segera berkonsultasi dengan dokter bila Anda mendapati adanya bercak darah yang keluar dari vagina Anda saat-saat masa perimenopause, atau setelah lewat dari 12 bulan sejak masa perimenopause. Secepatnya cari pertolongan medis bila gejala yang Anda alami sudah sangat mengganggu dalam beraktivitas.

Diagnosis Menopause

Seorang wanita dikatakan menopause apabila telah berhenti menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Menopause juga dimulai dengan timbulnya berbagai perubahan pada masa perimenopause.

Dokter bisa menentukan diagnosis menopause dari usia, riwayat klinis, dan gejala yang dialami pasien. Tetapi, untuk lebih memastikan diagnosis, atau jika dicurigai ada penyebab lain dari menopause, dokter akan menjalankan tes darah untuk memeriksa kadar hormon-hormon dalam tubuh, seperti:

  • Estradiol
    Hormon ini akan menunjukkan berapa banyak kadar estrogen yang dihasilkan oleh ovarium ketika dilakukan uji menopause. Sedikitnya kadar estrogen dalam darah adalah ciri-ciri dari menopause.
  • Follicle-stimulating hormone (FSH)
    Jumlah FSH yang meningkat dalam darah merupakan sebuah pertanda dari menopause.
  • Thyroid-stimulating hormone (TSH)
    Pemeriksaan kadar hormon TSH bertujuan untuk menetapkan bahwa pasien tidak mengalami hipotiroidisme atau hormon tiroid yang menurun, yang bisa memunculkan gejala serupa dengan menopause.

Pengobatan Menopause

Biasanyanya, kemunculan menopause adalah kondisi alami dan tidak memerlukan perawatan lebih lanjut. Akan tetapi, jika gejala menopause sudah mengganggu, dokter akan menganjurkan pasien memilih beberapa pilihan pengobatan yang bisa membantu meredakan gejala menopause.

Di bawah ini adalah pilihan penanganan gejala menopause:

Terapi pengganti hormon

Ada dua jenis terapi pengganti hormon yang bisa digunakan untuk meredakan gejala menopause, yaitu:

  1. Terapi pengganti hormon estrogen, yaitu terapi yang diuji pada wanita yang telah menjalani operasi pengangkatan rahim
  2. Terapi kombinasi (estrogen dan progesteron), yaitu terapi yang diuji pada wanita yang mengalami menopause secara alami

Catatan. Terapi ini tidak disarankan pada wanita yang memiliki riwayat kanker endometrium, kanker payudara, gangguan liver, stroke, atau pada wanita yang menderita gangguan pembekuan darah.

Terapi pengganti hormon estrogen akan berupa estradiol tablet atau estradiol topikal. Pasien harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai penanganan yang tepat.

Obat-obatan

Selain terapi pengganti hormon, ada beberapa jenis obat yang bisa diberikan untuk mengatasi gejala menopause, seperti:

  1. Obat antidepresan
    Obat ini diberikan untuk menahan gejala hot flashes dan gangguan suasana hati, jika pil estrogen tidak bisa diberikan karena alasan kesehatan. Misalnya obat antidepresan yang bisa diberikan dokter adalah paroxetine, venlafaxine, dan fluoxetibe.
  2. Gabapentin
    Obat kejang seperti gabapentin ini diberikan untuk mengatasi keringat pada malam hari. Gabapetin juga bisa sebagai pengganti pengobatan pada wanita yang tidak bisa menggunakan terapi estrogen sebagai langkah penanganan hot flashes.
  3. Clonidine
    Clonidine diberikan untuk mengatasi penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi), dan untuk meredakan gejala hot flashes.
  4. Minoxidil
    Produk perawatan rambut yang mengandung minoxidil 5% bisa diberikan untuk mengobati rambut rontok. Disarankan untuk menggunakan produk ini setiap sehari sekali yang berfungsi untuk melebatkan rambut.
  5. Obat tidur
    Obat tidur diberikan jika pasien mengalami keluhan sulit tidur, namun hanya boleh dikonsumsi di bawah pengawasan dokter.

Setelah berlangsung 3 bulan pengobatan, pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan kembali ke dokter. Selanjutnya, pemeriksaan kembali bisa dilakukan setiap tahun. Maksud dan tujuannya adalah untuk memastikan keberhasilan pengobatan yang telah diberikan, sekaligus memantau kondisi kesehatan pasien.

Komplikasi Menopause

Menopause ditandai dengan menurunnya kadar hormon, seperti hormon estrogen. Keadaan tersebut bisa menyebabkan beberapa komplikasi, seperti:

  • Keropos tulang (osteoporosis)
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular)
  • Urine tidak terkontrol (inkontinensia urine)
  • Masalah fungsi seksual, seperti vagina kering atau elastisitas vagina berkurang
  • Suasana hati berubah-ubah, misalnya mudah murung atau mudah tersinggung
  • Sulit tidur akibat hot flashes, yaitu panas, gerah yang muncul secara tiba-tiba di leher dan dada yang menyebabkan penderitanya mudah berkeringat dan merasa tidak nyaman
  • Berat badan bertambah, yang dimulai ketika masa perimenopause hingga masa menopause
  • Prolaps uteri

Pencegahan Menopause

Menopause adalah proses alami pada setiap wanita dan tidak memerlukan penanganan khusus. Akan tetapi, ada upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah gejala menopause agar tidak makin parah, yaitu:

  • Tidak mengonsumsi makanan pedas dan minuman panas, berkafein, atau beralkohol
  • Hadirkan lingkungan rumah yang sejuk dan nyaman
  • Memakai pakaian berbahan katun agar tubuh lebih nyaman
  • Menjalankan teknik relaksasi, yakni dengan bermeditasi, mengatur ritme napas, yoga, atau taichi
  • Menggunakan pelumas vagina dengan bahan dasar air

Kemudian, untuk mencegah penyakit lain yang muncul akibat menopause, wanita dianjurkan untuk menerapkan gaya hidup sehat. Seperti beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Rajin berolahraga, minimal 30 menit setiap harinya
  • Istirahat yang cukup dan berkualitas
  • HIndari rokok atau mengonsumsi minuman beralkohol
  • Konsumsi makan sehat serta perbanyak asupan serat dari buah dan sayuran
  • Mengurangi asupan lemak, gula, dan minyak
  • Konsultasikan ke dokter tentang perlunya mengonsumsi suplemen kalsium dan vitamin D