Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Gangguan Bakteri, Infeksi, Kesehatan Pencernaan

Leptospirosis

Leptospirosis adalah penyakit yang dipicu oleh bakteri Leptospira. Bakteri leptospira bisa menyebar dari urine atau darah hewan yang terinfeksi. Beberapa hewan yang termasuk sebagai perantara penyebaran leptospirosis adalah tikus, sapi, anjing, dan babi.

Gejala leptospirosis persis dengan gejala flu, namun lebih berat dan diikuti bengkak pada kaki dan tangan, juga kulit menjadi kuning. Bila tidak ditangani dengan tepat, leptospirosis bisa mengakibatkan kerusakan organ dalam, bahkan mengancam nyawa.

Penyebab Leptospirosis

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang hidup bertahun di ginjal. Hewan-hewan yang bisa menyebarkan bakteri Leptospira adalah:

  • Anjing
  • Babi
  • Kuda
  • Sapi
  • Tikus

Adakalnya, bakteri Leptospira bisa keluar bersama urine sehingga dapat mengontaminasi air dan tanah. Pada air dan tanah, Leptospira mampu bertahan selama beberapa bulan atau tahun.

Sementara itu, penularan bakteri Leptospira ke manusia dapat terjadi karena beberapa hal, seperti berikut:

  • Sentuhan langsung antara kulit dengan urine hewan pembawa bakteri
  • Bersentuhan antara kulit dengan air dan tanah yang terkontaminasi urine hewan penyebar bakteri
  • Mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri

Bakteri Leptospira bisa masuk ke dalam tubuh lewat luka terbuka, baik luka kecil, ataupun luka besar seperti luka robek. Bakteri ini juga dapat masuk dari mata, hidung, mulut, dan saluran pencernaan.

Leptospirosis dapat menular antarmanusia dari ASI atau hubungan seksual, namun kasus ini sangat jarang terjadi.

Faktor risiko leptospirosis

Penyakit leptospirosis banyak dijumpai di negara tropis dan subtropis, contohnya Indonesia. Hal ini disebabkan karena iklim yang panas serta lembap, yang dapat membuat bakteri Leptospira mampu bertahan hidup lebih lama. Leptospirosis sering juga terjadi pada orang dengan kondisi, seperti ini:

  • Banyak beraktifitas di luar ruangan, seperti pekerja tambang, petani, atau nelayan
  • Selalu berinteraksi dengan hewan, misalnya peternak, dokter hewan, atau pemilik hewan peliharaan
  • Mempunyai profesi yang berhubungan dengan saluran pembuangan atau selokan
  • Berada di daerah rawan banjir
  • Suka melakukan olahraga atau rekreasi air di alam bebas

Gejala Leptospirosis

Dari beberapa kasus, gejala leptospirosis tidak ada tanda sama sekali. Akan tetapi, dari kebanyakan penderita, gejala penyakit ini akan terlihat 1–2 minggu setelah terpapar bakteri Leptospira.

Gejala leptospirosis sangat beragam dari setiap penderita dan mulanya sering kali dianggap sebagai gejala penyakit lain, misalnya flu atau demam berdarah. Tanda serta gejala awal yang timbul pada penderita leptospirosis antara lain:

  • Demam tinggi diikuti badan menggigil
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah, hingga tidak nafsu makan
  • Diare
  • Mata merah
  • Sakit otot, terutama pada betis dan punggung bagian bawah
  • Sakit perut
  • Muncul bintik-bintik merah di kulit yang tidak hilang ketika ditekan

Umumnya keluhan di atas akan pulih dalam waktu 1 minggu. Akan tetapi, pada sebagian kasus, penderita bisa saja mengalami penyakit leptospirosis tahap dua yang disebut dengan penyakit Weil. Penyakit tersebut terjadi karena peradangan yang disebabkan oleh infeksi.

Penyakit Weil bisa berkembang 1 hingga 3 hari setelah gejala leptospirosis muncul. Keluhan yang muncul sangat beragam, tergantung pada organ yang terinfeksi. Gejala dan tanda pada penyakit Weil antara lain:

  • Demam
  • Penyakit kuning
  • Susah buang air kecil
  • Bengkak pada lengan dan kaki
  • Perdarahan, seperti mimisan atau batuk berdarah
  • Sakit di dada
  • Sesak napas
  • Jantung berdebar
  • Lemas serta keringat dingin
  • Sakit kepala sarta leher kaku
Saatnya ke dokter

Segera periksakan diri ke dokter bila Anda mengalami gejala yang disebutkan di atas. Terkadang gejala ini mirip dengan gejala penyakit infeksi lain sehingga harus dilakukan pemeriksaan guna mengetahui penyebab pastinya sebelum terjadi komplikasi.

Secepatnya ke IGD rumah sakit terdekat bila Anda mengalami gejala-gejala leptospirosis yang lebih parah, seperti:

  • Penyakit kuning
  • Sukar buang air kecil
  • Tangan serta kaki bengkak
  • Sakit di dada
  • Napas sesak
  • Batuk berdarah

Apabila Anda terdiagnosis terkena leptospirosis, lakukan kontrol dengan rutin selama pengobatan. Tujuan dari kontrol rutin tersebut agar dokter bisa mengamati perkembangan kondisi penyakit dan keberhasilan terapi yang diberikan.

Diagnosis Leptospirosis

Untuk melakukan diagnosis leptospirosis, dokter akan melakukan tanya jawab seputar gejala serta riwayat penyakit pasien. Dokter juga akan menanakan mengenai riwayat perjalanan, keadaan tempat tinggal, serta aktivitas yang dilakukan pasien selama 14 hari ke belakang.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan beberapa tes penunjang, guna menetapkan diagnosis dan mengetahui tingkat keparahan leptospirosis. Tes penunjang tersebut antara lain:

  • Uji darah, untuk melihat fungsi hati, fungsi ginjal, dan kadar sel darah putih sebagai penanda infeksi
  • Tes enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) atau rapid test, sebagai pendeteksi antibodi di dalam tubuh
  • Polymerase chain reaction (PCR), untuk mengetahui keberadaan bakteri Leptospira di dalam tubuh
  • Tes aglutinasi mikroskopik (MAT), untuk menetapkan keberadaan antibodi yang dengan spesifik terkait dengan bakteri Leptospira
  • Pemindaian menggunakan CT scan atau USG, untuk melihat keadaan organ yang mungkin terkena dampak peradangan akibat infeksi leptospirosis
  • Kultur darah dan urine, untuk menetapkan keberadaan bakteri Leptospira di dalam darah dan urine

Pengobatan Leptospirosis

Biasanya leptospirosis yang ringan tidak membutuhkan penanganan khusus, karena bisa sembuh dengan sendirinya dalam 7 hari. Dalam kondisi yang berat, pengobatan ditujukan untuk memulihkan gejala dan mencegah komplikasi.

Di bawah ini adalah beberapa metode pengobatan yang bisa dilakukan untuk penderita leptospirosis yang bergejala berat:

Pemberian obat-obatan

Apabila gejala sudah muncul, dokter akan memberikan obat-obatan untuk mehilangkan gejala serta mengatasi infeksi bakteri. Beberapa obat yang akan diberikan adalah:

  • Obat antibiotik, seperti penisilin, amoxicillin, ampicillin, doxycycline, atau azithromycin
  • Obat pereda demam dan nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen
Perawatan di rumah sakit

Jika infeksi berkembang makin parah serta menyerang organ (penyakit Weil), penderita akan dilakukan perawatan di rumah sakit. Dalam kondisi ini, antibiotik akan diberikan melalui infus.

Selanjutnya, dokter juga bisa melakukan beberapa penanganan tambahan berikut:

  • Infus cairan, untuk meredakan dehidrasi pada pasien yang tidak bisa minum banyak air
  • Pemberian vitamin K, untuk menurunkan perdarahan
  • Pemasangan ventilator bila pasien mengalami gagal napas
  • Perhatian terhadap kerja jantung
  • Transfusi darah apabila terjadi perdarahan berat
  • Cuci darah, untuk membantu kerja ginjal

Peluang sembuh dari penyakit Weil tergantung dari organ yang terserang infeksi serta tingkat keparahannya. Untuk pasien leptospirosis yang parah, kematian dapat terjadi akibat perdarahan atau karena komplikasi di paru-paru atau ginjal.

Komplikasi Leptospirosis

Leptospirosis yang tidak ditangani dengan baik bisa mengakibatkan penyakit Weil. Komplikasi yang bisa terjadi akibat penyakit Weil adalah:

  • Gagal ginajl parah
  • Jumlah trombosit menurun (trombositopenia)
  • Perdarahan saluran cerna
  • Perdarahan pada paru-paru
  • Stroke perdarahan (stroke hemoragik)
  • Gagal hati
  • Penyakit Kawasaki
  • Kerusakan otot (rhabdomyolysis)
  • Radang mata yang parah (Uveitis)
  • Darah menggumpal dan tersebar di seluruh tubuh
  • Gagal napas atau acute respiratory distress syndrome (ARDS)
  • Infeksi menjalar ke aliran darah (sepsis)
  • Gagal jantung
  • Keguguran bagi ibu hamil

Pencegahan Leptospirosis

Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengurangi risiko penyebaran infeksi leptospirosis, yakni dengan:

  • Menggunakan pakaian pelindung, sarung tangan, sepatu bot, dan pelindung mata, ketika bekerja di area yang berisiko menularkan bakteri Leptospira
  • Jangan mandi, berendam atau berenang di air danau, sungai, atau kubangan
  • Mengonsumsi air minum yang telah terjamin kebersihannya
  • Mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah makan, apabila setelah kontak dengan hewan
  • Mencuci buah dan sayuran mamakai air bersih sebelum mengolahnya
  • Menjaga kebersihan lingkungan sekitar dan menjamin lingkungan rumah bebas dari tikus
  • Memberikan vaksinasi pada hewan peliharaan dan ternak