Beranda/Diabetes dan Ginjal/Penyakit Ginjal Diabetik

Diabetes dan Ginjal

Penyakit Ginjal Diabetik

Pahami diabetic kidney disease sebagai CKD akibat diabetes yang sering tanpa gejala, skrining tahunan urine albumin-creatinine ratio dan blood eGFR sejak diagnosis diabetes tipe 2 atau setelah lima tahun tipe 1, perlunya konfirmasi albuminuria dan membedakan infeksi, olahraga, haid atau penyakit ginjal lain, kontrol gula dan tekanan individual, ACE inhibitor atau ARB bukan kombinasi, SGLT2 inhibitor, finerenone dan GLP-1 RA pada pasien sesuai, statin, garam, protein, rokok, NSAID, sick-day plan dan penyesuaian obat, rujukan nephrology, kehamilan, dialysis-transplant, serta tanda acute kidney injury dan fluid overload.

Ditulis oleh Tim SehatKitaDiperbarui 15 Agustus 2026Waktu baca 12 menit
Ilustrasi editorial untuk artikel Penyakit Ginjal Diabetik
RingkasanPenyakit ginjal diabetik adalah kerusakan ginjal kronis akibat diabetes dan sering tidak menimbulkan gejala sampai lanjut. Dua pemeriksaan utama adalah urine albumin-to-creatinine ratio (UACR) dan estimated GFR dari darah. Deteksi dini memungkinkan terapi yang menurunkan risiko gagal ginjal sekaligus melindungi jantung.

Skrining sebelum gejala

Orang dengan diabetes tipe 2 umumnya diperiksa setiap tahun sejak diagnosis; tipe 1 setelah sekitar lima tahun, lalu sesuai risiko. UACR mendeteksi albumin meski dipstick biasa negatif dan eGFR menilai filtrasi. Demam, infeksi urine, olahraga berat, haid, gula atau tekanan sangat tinggi dapat menaikkan albumin sementara, sehingga hasil abnormal biasanya dikonfirmasi.

Pastikan penyebab

Retinopati, durasi lama dan albuminuria mendukung DKD, tetapi darah urine berat, penurunan eGFR cepat, nephrotic syndrome mendadak, tidak ada retinopati pada tipe 1, atau penyakit sistemik dapat mengarah ke glomerulonephritis, sumbatan, obat, atau penyebab lain. Ultrasound, serologi, atau biopsy dipakai bila hasilnya mengubah terapi.

Sesak, kencing sangat sedikit, atau gula dengan keton perlu pertolonganKe IGD bila kencing sangat berkurang, sesak atau bengkak cepat, kebingungan, nyeri dada, muntah terus, kelemahan atau irama jantung abnormal, atau gula tinggi dengan keton. Rujuk nephrology bila eGFR turun cepat, sangat rendah, albuminuria berat, potassium sulit, atau diagnosis tidak jelas.

Terapi pelindung ginjal

Target gula dan tekanan dipersonalisasi. ACE inhibitor atau ARB digunakan terutama dengan hipertensi dan albuminuria, tetapi tidak digabung dan perlu cek creatinine serta potassium. SGLT2 inhibitor melindungi ginjal dan jantung pada banyak pasien; finerenone dan GLP-1 RA dipertimbangkan sesuai eGFR, potassium, albumin, cardiovascular risk, dan obat lain. Kehamilan mengubah pilihan.

Kebiasaan dan pemantauan

Batasi sodium, pilih protein sesuai dietitian tanpa diet ekstrem, aktif, berhenti merokok, atur berat, dan gunakan statin bila indikasi. Hindari NSAID serta jamu tidak jelas, beri tahu tim sebelum contrast, dan miliki sick-day plan untuk muntah, diare atau puasa agar dehidrasi, ketoacidosis, dan obat menumpuk tidak terjadi. Vaccination dan foot-eye care tetap penting.

Sumber dan catatan editorial

Informasi dalam artikel ini merujuk pada NIDDK — diabetic kidney disease, NIDDK — UACR and GFR. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.