Skrining sebelum gejala
Orang dengan diabetes tipe 2 umumnya diperiksa setiap tahun sejak diagnosis; tipe 1 setelah sekitar lima tahun, lalu sesuai risiko. UACR mendeteksi albumin meski dipstick biasa negatif dan eGFR menilai filtrasi. Demam, infeksi urine, olahraga berat, haid, gula atau tekanan sangat tinggi dapat menaikkan albumin sementara, sehingga hasil abnormal biasanya dikonfirmasi.
Pastikan penyebab
Retinopati, durasi lama dan albuminuria mendukung DKD, tetapi darah urine berat, penurunan eGFR cepat, nephrotic syndrome mendadak, tidak ada retinopati pada tipe 1, atau penyakit sistemik dapat mengarah ke glomerulonephritis, sumbatan, obat, atau penyebab lain. Ultrasound, serologi, atau biopsy dipakai bila hasilnya mengubah terapi.
Terapi pelindung ginjal
Target gula dan tekanan dipersonalisasi. ACE inhibitor atau ARB digunakan terutama dengan hipertensi dan albuminuria, tetapi tidak digabung dan perlu cek creatinine serta potassium. SGLT2 inhibitor melindungi ginjal dan jantung pada banyak pasien; finerenone dan GLP-1 RA dipertimbangkan sesuai eGFR, potassium, albumin, cardiovascular risk, dan obat lain. Kehamilan mengubah pilihan.
Kebiasaan dan pemantauan
Batasi sodium, pilih protein sesuai dietitian tanpa diet ekstrem, aktif, berhenti merokok, atur berat, dan gunakan statin bila indikasi. Hindari NSAID serta jamu tidak jelas, beri tahu tim sebelum contrast, dan miliki sick-day plan untuk muntah, diare atau puasa agar dehidrasi, ketoacidosis, dan obat menumpuk tidak terjadi. Vaccination dan foot-eye care tetap penting.
Informasi dalam artikel ini merujuk pada NIDDK — diabetic kidney disease, NIDDK — UACR and GFR. Informasi ini bukan diagnosis atau pengganti konsultasi dokter.
