Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Batuk

Batuk Rejan

Pertusis atau batuk rejan

Pertusis atau yang dikenal dengan batuk rejan, adalah sebagian dari jenis infeksi saluran pernafasan yang sangat mudah menular. Penyakit ini dimulai dengan gejala batuk yang disertai oleh suara menarik nafas bersuara tinggi yang khas dengan tempo waktu lama.

Diduga yang paling sering menyebabkan batuk ini adalah bakteri Bordetella pertussis, dan bisa juga penyebabnya bakteri Bordetella parapertussis.

Batuk ini adalah batuk yang bisa menyebabkan cacat juga kematian kepada anak berada diusia di bawah 2 tahun apabila tidak cepat ditangani. Maka dari itu informasi seputar batuk rejan penting sekali untuk diketahui.

Penyebab batuk rejan

Batuk rejan menular lewat droplet yaitu, partikel air kecil bersin atau batuk orang yang sudah terinfeksi. Artinya, jika seseorang yang sudah terinfeksi, lalu orang itu batuk atau bersin, luncuran partikel kecil yang keluar dari mulut nya, yang mengandung bakteri akan tersebar ke udara dan besar kemungkinan akan terhirup oleh orang lain yang berada di dekatnya.

Diagnosis batuk rejan

Pada tahap awal, batuk rejan sulit untuk di diagnosa. Karena gejala dan tandanya bisa sama dengan penyakit saluran pernapasan lainnya, misalnya influenza, bronkitis dan common cold.

Biasanya, untuk tahap awal dari diagnosa batuk rejan adalah lewat tanya jawab medis juga pemeriksaan fisik secara langsung oleh dokter. Bila ada tanda Inflamasi atau peradangan, atau infeksi, pemeriksaan darah dan rontgen paru-paru dapat dilakukan.

Setelah itu, jika dibutuhkan, diagnosa juga bisa dilakukan lewat pemeriksaan bagian tenggorokan atau pemeriksaan (PCR) polymerase chain reaction) lewat DNA tubuh.

Apabila pasien yang mengalami batuk lebih dari 3 minggu disarankan untuk menjalani pemeriksaan tersebut. Rekomendasi dari Center for Disease Prevention and Control (CDC).

Gejala-gejala pada batuk rejan biasanya berjalan selama enam minggu, dan akan dibagi menjadi 3 tahap, yakni:

  • Tahap awal yaitu fase catarrhal
  • Tahap penyembuhan yaitu fase paroksismal
  • Tahap penyembuhan yaitu fase konvalesens

Fase ini masing-masing dapat berlangsung selama setidaknya 1 hingga 2 minggu.

Pada fase catarrhal, gejala yang muncul bisa mirip dengan seseorang yang mengalami common cold, yaitu hidung tersumbat, bersin-bersin, pilek, dan mata merah. Dalam fase ini bisa juga terjadi demam, dengan suhu tubuh yang beda dengan suhu tubuh normal.

Lalu, fase paroksismal dikenali dengan munculnya gejala batuk yang terus-menerus, disertai oleh suara tarikan nafas yang khas. Batuk umumnya akan lebih serin muncul di malam hari, dan berlangsung selama beberapa menit.

Lantas, pada bagian wajah akan tampak menjadi kemerahan dikarenakan batuk-batuk yang kuat, diikuti oleh mata yang kelihatan merah. Pada anak, kulit terlihat kebiruan apabila batuk terus-menerus serta diikuti oleh sulit bernapas.

Juga batuk-batuk yang terjadi dapat mengeluarkan dahak yang diikuti dengan muntah. Khusus pada remaja atau orang dewasa, suara tarikan nafas yang khas tidak selalu timbul.

Fase konvalesens dikenali dengan batuk yang berkepanjangan lalu dengan perlahan mulai mereda, namun bisa tinggal sampai berminggu-minggu.

Komplikasi batuk rejan

Jika tidak cepat ditangani, batuk rejan dapat menyebabkan komplikasi, terlebih pada bayi dan anak di bawah usia 2 tahun.

Berikut komplikasi yang bisa muncul seperti dehidrasi (kekurangan cairan dalam tubuh), kejang, masalah ginjal, susah bernafas, berat badan turun, infeksi pada paru-paru (pneumonia), dan minimnya asupan oksigen ke otak.

Upaya mencegah terjadinyanya komplikasi ini, orang yang dicurigai mengalami batuk rejan dianjurkan segera melakukan konsultasi dengan dokter agar salanjutnya dilakukan evaluasi.

Maksud dari penanganan pada batuk rejan adalah guna menahan atau meminimalisir terjadinya fase paroksismal, mengobati keluhan batuk yang mengganggu, juga meningkatkan asupan nutrisi, istirahat, dan proses pemulihan.

Pengobatan batuk rejan

Batuk rejan bisa diobati memakai obat-obatan antimikroba atau antibiotik agar pemusnahan bakteri penyebab bisa lebih cepat, dan mencegah penyakit lebih menyebar.

Pengobatan diberikan untuk mengatasi gejala batuk, pilek, atau demam. Akan tetapi, penggunaan obat-obatan tentu harus sesuai dengan pertanda dan resep dari dokter.

Istirahat yang cukup sangat disarankan bagi penderita batuk rejan, asupan cairan tubuh yang cukup, dan berkonsultasi dengan dokter jangan dilupakan.

Dokter melakukan tanya jawab medis juga melakukan pemeriksaan fisik secara langsung guna menentukan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Pencegahan batuk rejan

Batuk rejan dapat dicegah, yaitu dengan imunisasi difteri, pertusis dan tetanus (DPT), yang biasa diberikan saat bayi berusia 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan atau sesuai program yang dilaksanakan. Berikutnya, imunisasi diteruskan dengan booster pada usia 15-18 bulan dan 4-6 tahun.

Pencegahan dari penularan batuk rejan bisa dilakukan dengan menutup hidung dan mulut saat batuk atau bersin, buang segera tisu yang digunakan, serta cuci tangan secara rutin dengan air dan sabun.