Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Bakteri

Skistosomiasis

Infeksi yang disebabkan oleh cacing skistosoma dikenal sebagai schistosomiasis, atau bilharzia. Penyakit ini juga sering disebut sebagai demam siput.

Hidup cacing skistosoma adalah di air tawar, seperti danau, waduk, atau sungai. Mereka bisa hidup dan berkembang di dalam tubuh selama berminggu-minggu, atau bahkan bertahun-tahun.

Jika seseorang bersentuhan langsung dengan air yang tercemar cacing skistosoma, seperti saat berenang atau mandi di air tersebut, mereka dapat terinfeksi skistosomiasis.

Penyebab Skistosomiasis

Infeksi yang disebabkan oleh cacing parasit yang hidup di air menyebabkan skistosomiasis:

  • Schistosoma guineensis (bakteri)
  • Schwannoma haematobium
  • Schistosoma intercalatum (S. intercalatum)
  • Schistosoma japonicum (Schistosoma)
  • Mansoni schostosoma
  • Schostosoma mekongi

Cacing skistosoma dapat masuk ke dalam tubuh saat seseorang mandi, berenang, mencuci pakaian, atau melakukan aktivitas lain di air yang terkontaminasi dengan cacing ini.

Cacing ini dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui permukaan kulit dan menyebar melalui pembuluh darah ke organ lain. Setelah beberapa minggu, cacing menjadi dewasa dan mulai menyebar ke paru-paru dan hati.

Skistosomiasis tidak dapat menular secara langsung dari satu orang ke orang lain. Selain itu, air laut, kolam renang yang sudah diberi klorin, dan air steril tidak memiliki cacing penyebab skistosomiasis.

Faktor-faktor berikut meningkatkan kemungkinan terkena skistosomiasis adalah:

  • Tinggal atau bepergian ke daerah di mana skistosomiasis sedang menyebar
  • dekat dengan air tawar seperti sungai, danau, atau waduk
  • Daya tahan tubuh yang lemah, seperti yang disebabkan oleh penyakit HIV/AIDS atau penggunaan obat yang menekan sistem imun

Gejala Skistosomiasis

Pada awalnya, gejala skistosomiasis atau demam keong seringkali tidak muncul. Biasanya, beberapa hari setelah infeksi, ruam atau gatal di kulit baru muncul.

Pada fase akut skistosomiasis, gejala atau keluhan mungkin termasuk:

  • Gangguan kulit
  • Ruam di kulit
  • Demam
  • Batuk
  • Sakit kepala
  • Rasa sakit di perut
  • Diare
  • Nyeri di kedua otot dan sendi
  • Tubuh lemas dan lelah (malaise)

Jika infeksi berlanjut, gejala skistosomiasis kronis akan muncul. Tahap kronis gejala tergantung pada organ tempat cacing skistosoma berkembang biak, tetapi termasuk gejala berikut:

  • Anemia
  • Rasa sakit di perut
  • Sulit untuk berkemih
  • Urine mengandung darah
  • Diare dan feses keluar dengan darah
  • Batuk yang terus-menerus yang disertai dengan batuk berdarah
  • Penumpukan cairan dalam perut yang dikenal sebagai asitas
  • Serangan jantung dan nyeri di dada
  • Napas sesak
  • Kepala terasa sakit
  • Kelumpuhan pada tungkai dan kaki
  • Kejang
Saatnya ke dokter

Apabila mengalami gejala di atas, terutama jika Anda belum lama ini berenang, mandi, atau beraktivitas di sungai, danau, atau waduk, pergi ke dokter untuk melakukan beberapa pemeriksaan untuk menentukan sumber gejala.

Lakukan kontrol rutin ke dokter jika Anda didiagnosis menderita skistosomiasis untuk menghindari penyebaran infeksi dan munculnya komplikasi.

Diagnosis Skistosomiasis

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pertanyaan tentang keluhan, kebersihan diri dan lingkungan, pekerjaan, dan riwayat kontak langsung dengan air tawar untuk mendiagnosis skistosomiasis.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan berikut:

  • Tes darah untuk memastikan apakah ada anemia atau peningkatan kadar eosinofil
  • Cek urine dan tinja untuk mengidentifikasi telur cacing skistosoma dalam urine atau tinja
  • Tes fungsi ginjal dan hati untuk memastikan tidak ada masalah dengan kedua organ tersebut
  • Untuk mengidentifikasi penyebaran infeksi skistosoma, lakukan pemeriksaan dengan menggunakan scan CT, MRI, Rontgen, ekokardiografi, atau USG
  • Biopsi digunakan untuk mengidentifikasi sel-sel yang tidak biasa dalam sampel jaringan

Pengobatan Skistosomiasis

Obat dapat mengobati skistosomiasis. Dokter akan memberikan obat anticacing, yaitu praziquantel, sebagai pilihan utama untuk mengatasi skistosomiasis.

Dokter juga dapat memberikan obat golongan kortikosteroid untuk mengurangi gejala skistosomiasis akut atau kerusakan sistem saraf dan otak.

Dokter akan menyarankan operasi untuk pengangkatan granuloma, pemasangan shunt, pengangkatan gumpalan cacing, atau pengikatan (ligasi) varises esofagus jika ada pelebaran pembuluh darah vena di kerongkongan.

Komplikasi Skistosomiasis

Skistosomiasis dapat menyebabkan beberapa efek samping, di antaranya:

  • Perdarahan yang terjadi di saluran cerna
  • Penyumbatan yang terletak di lambung atau usus
  • Kekurangan nutrisi
  • Infeksi pada ginjal
  • Sepsis
  • Lumpuh
  • Infertilitas atau kemandulan
  • Anemia yang berat
  • Gagal ginjal yang akut
  • Kerusakan hati yang berlangsung lama
  • Varices di esofagus
  • Penyumbatan yang terjadi di kandung kemih dan hati
  • Radang pada usus besar
  • Hipertensi paru-paru
  • Gagal kardiovaskular

Pencegahan Skistosomiasis

Salah satu cara untuk mencegah infeksi skistosomiasis adalah dengan menghindari bersentuhan dengan air tawar yang mungkin terkontaminasi cacing skistosoma. Jika Anda mengunjungi tempat yang mungkin terkontaminasi cacing skistosoma, lakukan hal-hal berikut sebagai langkah pencegahan:

  • Apabila bekerja di lingkungan berair tawar, gunakan celana dan sepatu bot yang tidak menyerap air
  • Menjaga kebersihan diri dan mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengalir
  • Konsumsi air matang atau air mineral yang dapat dibersihkan
  • Hindari mandi atau berendam di danau atau sungai
  • Untuk mandi dan mencuci, gunakan air bersih

Jika tidak yakin seberapa bersih air yang akan digunakan, Anda dapat merebusnya sampai mendidih. Kemudian, diamkan air dalam keadaan mendidih selama satu menit, sebelum mematikan kompor atau api.