Info Kesehatan Keluarga Indonesia

Alergi

Alergi Telur

Mengapa alergi telur

Alergi telur menduduki peringkat kedua setelah alergi susu sapi. Alergi jenis sangat banyak dialami anak-anak. Gejala yang dialami gejala jenis ringan seperti gatal-gatal di kulit sampai gejala berat seperti sesak napas hingga hilang kesadaran yang bisa mengancam nyawa.

Seperti kasus alergi lainnya, sebagian besar alergi telur pada anak akan berkurang dengan sendiri dan hilang bersama semakin bertumbuh besarnya anak beranjak dewasa.

Beberapa anak berisiko mengalami alergi telur dibandingkan dengan anak lainnya. Faktor risiko tersebut adalah:

  • Usia anak
  • Turunan dari ayah atau ibu juga saudara sedarah dan riwayat asma, alergi makanan atau eksim di keluarga.
  • Sermatitis atopi atau gatal pada kulit akibat reaksi alergi
Diagnosa alergi telur

Biasanya diagnosis dilakukan setelah adanya alergi telur saat anak mengkonsumsi telur atau bahan makanan yang mengandung telur. Untuk memastikan diagnosisnya, diperlukan serangkaian pemeriksaan tambahan, seperti:

  • Uji cukit kulit atau Skin prick test
    Tes ini dilakukan dengan menyuntikkan bahan yang berisi protein telur ke dalam lapisan kulit. Jika hasil suntikan menjadi bengkak dan kemerahan, uji cukit di interpretasikan positif alergi telur
  • Pemeriksaan darah. Gunanya untuk memeriksa kadar antibodi yang spesifik terhadap kandungan protein dalam telur
  • Uji eliminasi. Dilakukan dengan mencoret telur dan makanan yang mengandung telur dari menu sehari-hari. Jika keluhan membaik serta gejala tidak lagi timbul, dapat dipastikan penderita memang memiliki alergi terhadap telur

Bila gejala tidak terlalu berat, uji provokasi dilakukan, yaitu memasukkan kembali telur ke dalam menu harian. Jika gejala timbul kembali, benarlah orang tersebut memiliki alergi pada telur.

Untuk diketahui, uji provokasi ini tidak disarankan dilakukan pada orang yang manifestasi alerginya berat, misalnya sesak napas.

Sebenarnya, reaksi alergi muncul sebagai respons tubuh terhadap zat tertentu (alergen). Alergi pada telur, alergen yang dimaksud dapat berupa kuning telur atau putih telur bahkan keduanya.

Namun kasus terbanyak adalah alergi putih telur, mereka yang memiliki alergi tetap dianjurkan untuk menghindari keseluruhan bagian telur juga produk-produk yang diolah dengan telur.

Penyebab alergi telur

Alergi telur dapat muncul dengan cepat atau hanya beberapa jam setelah seseorang mengkonsumsi telur ataupun bahan makanan yang mengandung telur. Tanda yang dapat terjadi di antaranya adalah:

  • Iritasi pada kulit gatal, bengkak dan memerah
  • Bibir bengkak atau pucat
  • Bersin-bersin dan hidung berair
  • Kram pada perut, gangguan pencernaan mual dan muntah
  • Sesak napas, batuk-batuk hingga asma

Apabila seseorang mengalami gejala pertama kali setelah mengonsumsi telur, maka harus hati-hati. Tidak tertutup kemungkinan gejala yang akan terjadi jika ia mengkonsumsi telur kembali, gejala yang terjadi lebih berat hingga mengancam nyawa. Alergi berat dan berpotensi mengancam nyawa disebut reaksi anafilaksis.

Reaksi Anafilaksis

Tanda seseorang mengalami reaksi anafilaksis seperti berikut ini:

  • Jantung berdetak sangat cepat
  • Napas tiba- tiba sesak
  • Sakit pada perut dengan hebat
  • Hilang nya kesadaran akibat tekanan darah yang menurun drastis

Reaksi anafilaksis harus segera ditangani dengan cepat menggunakan suntikan adrenalin atau obat epinefrin guna menghindari akibat yang fatal.

Pengobatan alergi telur

Hindari mengkonsumsi telur dan berbagai bahan makanan yang berpotensi mengandung telur. Ini adalah pengobatan yang paling inti dalam menangani reaksi alergi telur. Jika reaksi alergi terlanjur terjadi, berikut pengobatan yang dapat dilakukan:

  • Antihistamin untuk meredekan respons alergi tubuh
  • Suntikan epinefrin bila terjadi gejala yang berat seperti anafilaksis

Reaksi anafilaksis yang mengancam nyawa adalah komplikasi terberat dari alergi telur.

Pencegahan

Hindari telur dan seluruh produk yang mengandung telur. Hal ini akan mencegah terjadinya reaksi alergi yang disebabkan oleh telur dan produk-produk yang mengandung telur

Juga upaya lainnya yang dapat dilakukan adalah:

  • Baca dan pelahari label makanan sebelum membeli atau mengkonsumsi, agar yakin makanan tersebut bebas dari kandungan telur
  • Pahami dan hindari bahan makanan yang juga mengandung komponen protein telur, yaitu: lecithin, livetin, albumin, globulin, lysozyme, vitellin, semua bahan makanan yang bersuku kata “ova” atau “ovo,” seperti ovoglobulin atau ovalbumin
  • Dan waspada saat ingin melakukan vaksinasi. Beberapa vaksin seperti Measles Mumps Rubella (MMR), influenza (flu), yellow fever dan Q fever vaccines umumnya mengandung sejumlah protein telur.

Beberapa orang mungkin diperbolehkan dokter untuk tetap mendapat vaksin ini, namun sebagian lain yang memiliki kecenderungan alergi berat sebaiknya menghindari jenis vaksin tersebut.